Meski Harga Tiket Pesawat Domestik Turun, Sebagian Besar Warga Aceh Tetap Pilih Rute Internasional

Indonesia National Air Carriers Association (INACA) sepakat menurunkan harga jual tiket pesawat rute domestik.

Meski Harga Tiket Pesawat Domestik Turun, Sebagian Besar Warga Aceh Tetap Pilih Rute Internasional
Pixabay.com
Ilustrasi pesawat terbang. 

TRIBUNJABAR.ID, ACEH - Sejumlah maskapai penerbangan yang tergabung dalam Indonesia National Air Carriers Association (INACA) sepakat menurunkan harga jual tiket pesawat rute domestik.

Sayangnya, kesepakatan sejumlah maskapai penerbangan itu tak mendapat sambutan meriah di Aceh.

Di Aceh, penurunan harga tiket domestik yang digembar-gemborkan turun sampai 60 persen, ternyata masih jauh dari harga penerbangan rute internasional.

Itu sebabnya, sebagian besar warga Aceh akan tetap memilih rute penerbangan internasional, Banda Aceh – Kuala Lumpur – Jakarta atau kota lainnya di Indonesia.

Hal itu diungkap oleh Direktur Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Safaruddin SH dan Wakil Ketua Komisi IV DPR Aceh, Asrizal H Asnawi, secara terpisah kepada Serambinews.com, Senin (14/1/2018).

Pernyataan masih mahalnya harga tiket pesawat rute domestik (dalam negeri) ini juga disampaikan sejumlah warganet dalam kolom komentar berita turunnya harga tiket pesawat domsetik, yang diposting di Fanspage Serambinews.com.

Di Medsos, Banyak Curhatan Tiket Pesawat Mahal Jakarta-Medan Rp 1,7 Juta, Buat Petisi Turunkan Harga

Sehingga beberapa dari mereka akan tetap terbang via Kuala Lumpur, Malaysia. 

“Naik 120%, turun 60%. Artinya masih juga naik 60% donk.. mau ngibul ceritanya,” tulis pemilik akun Maulidar sembari memasang emoticon tertawa, dalam kolom komentar postingan berita Fenomena Warga Aceh Ramai-ramai Bikin Paspor, Harga Tiket Pesawat Akhirnya Diturunkan.

Sementara itu, dalam postingan berita berjudul "Harga Tiket Turun, Terima Kasih Aceh" di Fanspage Facebook Serambinews.com, banyak warganet menyatakan, meski dinyatakan sudah turun, tapi harga tiket penerbangan domestik masih jauh lebih mahal dari sebelumnya.

"Masih dalam pembodohan, tidak ada penurunan harga , jika dihitung.. harganya 0,0,0,0,02% beda tipis..," tulis Muhammad Yani. 

Halaman
1234
Editor: Yongky Yulius
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved