Senin, 27 April 2026

Inilah Penyebab Terjadinya Angin Puting Beliung di Rancaekek Bandung, Menurut BMKG

Angin puting beliung melanda Rancaekek, Kabupten Bandung, Jumat kemarin. Apa penyebabnya? Simak di sini.

Penulis: Indan Kurnia Efendi | Editor: Widia Lestari
Facebook
Angin puting beliung melanda kawasan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jumat (11/1/2019). 

TRIBUNJABAR.ID - Angin puting beliung menerjang Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jumat (11/1/2019).

Berdasarkan data sementara yang diterima Tribun Jabar, Sabtu (12/1/2019), sebanyak 600 rumah mengalami kerusakan.

Camat Rancaekek, Baban Banjar menuturkan, terdapat 6 desa di Kecamatan Rancaekek yang terdampak angin puting beliung.

Rinciannya adalah Desa Rancaekek Wetan, Rancaekek Kulon, Kelurahan Kencana, Desa Bojongloa, Desa Jelegog dan Desa Tegal Sumedang. Dan yang terparah berada di Desa Jelegong.

"Untuk sementara ada sekitar 600 rumah yang terdampak. Di antaranya 150 rumah rusak parah," ungkapnya.

Ia menambahkan, insiden puting beliung yang terjadi pada Jumat sore ini tidak menimbulkan korban jiwa.

Namun korban luka ringan akibat tertimpa puing-puing rumah mencapai kurang lebih 100 orang.

Selain itu, ada dua orang yang terluka parah sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

"Korban jiwa tidak ada hanya luka-luka sekitar kurang lebih 100 orang. Kalau yang parah hanya 2 orang dan korban sudah dibawa ke Al Islam," katanya.

Terkait angin puting beliung yang melanda Rancaekek, Kabupaten Bandung, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyenyababnya.

Tangkapan layar video yang memperlihatkan angin puting beliung di Rancaekek, Bandung.
Tangkapan layar video yang memperlihatkan angin puting beliung di Rancaekek, Bandung. (Istimewa.)

Dijelaskan Kepala Stasiun Geofisika Klas I Bandung, Toni Agus Wijaya, puting beliung di Rancaekek disebabkan oleh adanya pembentukan awan Cumulonimbus di sekitar wilayah Bandung pada Jumat sekitar pukul 15.10 WIB.

Angin kencang kemudian membentuk pusaran dan menyapu ratusan rumah.

"Berdasarkan pantauan citra satelit terdapat pembentukan awan Cumulonimbus di sekitar wilayah Bandung timur dan sebagainya," kata Toni Agus Wijaya, melalui pesan singkat, Sabtu (12/1/2018), seperti dikutip Tribun Jabar dari Kompas.

Toni menambahkan, adanya pertemuan massa udara di sekitar Jabar dan belokan angin di Jawa Barat bagian tengah juga menyebabkan angin puting beliung.

"Karena terdapat anomali suhu permukaan laut di perairan Jawa Barat yang cenderung hangat sehingga berpeluang terjadi pembentukan awan konvektif potensial hujan," ungkapnya.

Menurut Toni, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang kadang disertai angin kencang dan petir memang terjadi di wilayah Bandung Timur dan sekitarnya sore kemarin.

Observasi yang tercatat di pos hujan Cileunyi, kurang dari 1 jam tercatat 16 mm, atau masuk dalam kategori hujan dengan intensitas lebat.

Pelaporan data pengamatan permukaan di Stasiun Geofisika Bandung, tercatat suhu maksimum pada Jumat kemarin pada pukul 14.00 WIB adalah 29,3 derajat celcius, dengan kelembaban udara sekitar 59 persen saat awal pembentukan awan cumulonimbus pada siang menjelang sore.

Sementara, pada pukul 15.00 WIB, suhu tercatat 27,0 derajat celcius dengan kelembaban udara sekitar 67 persen.

"Dari pantauan citra radar terdeteksi adanya pembentukan awan konvektif dengan kategori hujan sedang-lebat dan ketinggian puncak awan bisa mencapai 14 km pda 15.12 WIB," ungkapnya.

Tanda-tanda Munculnya Puting Beliung

Bencana angin puting beliung yang terjadi di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jumat (11/1/2019) sore, merusak puluhan rumah di Perumahan Rancaekek Permai 2, Desa Jelegong.
Bencana angin puting beliung yang terjadi di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jumat (11/1/2019) sore, merusak puluhan rumah di Perumahan Rancaekek Permai 2, Desa Jelegong. (Tribun Jabar/Hakim Baihaqi)

Kepala Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan bahwa puting beliung merupakan fenomena alamiah yang biasa terjadi.

Terutama ketika terjadi hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang yang berdurasi singkat.

Ia menambahkan, fenomena puting beliung lebih banyak terjadi pada masa transisi, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya.

"Dan juga saat musim hujan ketika kondisi cuaca pagi hari cerah dan terik," kata Hary dikutip Tribun Jabar dari Kompas.com, Kamis (6/12/2018).

Tanda-tanda Alam

Puting beliung datang bukan tanpa peringatan.

Hary mengungkapkan ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kemungkinan puting beliung akan hadir di suatu wilayah.

"Satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah. Udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb atau lebih dari 60 persen," jelasnya dalam pesan singkat, Kamis (07/11/2018).

Mulai pukul 10.00 pagi akan terlihat tumbuh awan Cumulonimbus (awan putih berlapis–lapis) dan di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu–abu menjulang tinggi layaknya bunga kol.

Awan Cumulus dengan tepian berwarna abu-abu itu kemudian akan berubah warna dengan cepat menjadi abu–abu atau hitam yang dikenal dengan awan CB (Cumulonimbus).

Kemudian tanda yang muncul di sekitar kita adalah pepohonan mulai bergoyang cepat. Ini akibat dorongan angin dan udara yang terasa dingin dan disusul hujan.

"(Angin puting beliung terjadi bila) hujan pertama yang turun adalah hujan deras yang muncul tiba-tiba. Apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita," kata dia.

"Jika satu sampai tiga hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim pancaroba atau penghujan, maka ada potensi hujan yang pertama kali turun akan lebat dan diikuti angin kencang, baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak," sambungnya.

Sifat angin puting beliung

Hary menuturkan, puting beliung adalah angin lokal yang muncul hanya di satu titik lokasi dengan luas perputarannya berkisar antara lima sampai sepuluh kilometer.

Kemunculan angin puting beliung berlangsung singkat, hanya sekitar 10 menit dan lebih sering terjadi pada musim pancaroba.

"Selain itu, fenomena puting beliung lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, dan terkadang menjelang malam hari," ujar Hary.

Meski demikian, Hary menegaskan puting beliung sulit diprediksi secara spesifik dan hanya bisa diprediksi setengah sampai satu jam sebelum kejadian jika melihat atau merasakan tanda-tandanya dengan tingkat keakuratan 50 persen.

Angin ini pun cukup berbahaya karena kecepatanya bisa mencapai 45 kilometer per jam dan dapat membahayakan, terutama karena angin dapat menerbangkan benda-benda besar di sekitarnya.

(Tribun Jabar & Kompas)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved