Jalur Kereta Api di Bandung yang Rencananya Direaktivasi, Buatan Belanda Langsung ke Tempat Wisata

Beberapa jalur kereta api di Bandung yang rencananya direaktivasi. Dari kota langsung ke tempat wisata.

Jalur Kereta Api di Bandung yang Rencananya Direaktivasi, Buatan Belanda Langsung ke Tempat Wisata
Tribun Jabar/Putri Puspita Nilawati
Jalur kereta api di Stasiun Selatan. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Berkembangnya tempat wisata di Bandung berdampak pada kemacetan yang tak bisa dihindari lagi.

Banyaknya wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi membuat jalanan Bandung semakin padat, apalagi ketika akhir pekan atau hari libur datang.

Tahukah Anda jika kemacetan sebenarnya bisa diminimalisir dengan penggunaan kereta api?

Ya, di negara maju, mereka mengandalkan jalur kereta api sebagai sarana transportasinya.

Koordinator wilayah Bandung dari Komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS), Deden, mengatakan, Bandung memiliki beberapa jalur rel kereta yang sudah tidak dipergunakan kembali.

Jembatan kereta api Cikuda, di Kampung Cikuda, Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Selasa (18/9/2018). Ini merupakan jalur kereta api ke Tanjungsari.
Jembatan kereta api Cikuda, di Kampung Cikuda, Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Selasa (18/9/2018). Ini merupakan jalur kereta api ke Tanjungsari. (Tribun Jabar/Hakim Baihaqi)

Misalnya saja jalur kereta api yang dibuat pada 23 Februari 1918 yaitu Bandung-Rancaekek-Tanjungsari-Citali yang direncanakan diteruskan ke kota Sumedang.

Selanjutnya ada Bandung ke Kopo yang diteruskan ke Ciwidey yang dibuat pada 18 Maret 1921.

Ada juga lintasan kereta api dari Bandung–Citeureup-Majalaya yang dibuat ada 1916, tapi kemudian di jalur yang sama dibangun lintasan kereta api Citeureup–Banjaran–Pangalengan yang dikerjakan pada 1921.

"Menurut saya jalur kereta api yang sudah ditutup perlu dihidupkan kembali supaya arus lalu lintas menjadi kondusif, setidaknya akan menekan hingga 20-30 persen kemacetan," ujar Deden saat ditemui di 23 Paskal, Jalan Pasir Kaliki, setelah mengisi kegiatan sejarah kereta api di Bandung bersama Komunitas Aleut.

Sejumlah warga melintasi jembatan layang bekas rel kereta di atas sungai Sungapan, karena jalur Soreang-Ciwidey terputus akibat longsor, Senin (19/11/2012).
Sejumlah warga melintasi jembatan layang bekas rel kereta di atas Sungai Sungapan, karena jalur Soreang-Ciwidey terputus akibat longsor, Senin (19/11/2012). (Agung Yulianto)

Komunitas Indonesian Railway Preservation Society adalah komunitas pecinta kereta api yang memusatkan perhatian dan kegiatannya pada penyelamatan dan pelestarian aset kereta api Indonesia yang bernilai sejarah.

Deden tak menampik jika jalur kereta api yang ditutup saat ini rata-rata karena bersinggungan dengan jalan raya.

"Saati ini juga jalurnya sudah menjadi pembebasan lahan yang dikuasai masyarakat. Bahkan ada fasilitas umum yang sudah berdiri di beberapa jalur," ucapnya.

Bayangkan saja jika jalur kereta api di wilayah Kopo diaktifkan kembali, setidaknya daerah kopo yang dikenal karena macetnya ini bisa mengurangi tingkat kemacetan di daerah tersebut.

Walaupun saat ini jalan tol sudah mulai banyak dibangun untuk mengurangi kemacetan, tapi menurut Deden tidak mengurangi arus lalu lintas menjadi lancar, justru membuat perkotaan semakin ramai.

Penulis: Putri Puspita Nilawati
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved