Tahun Baru 2019

Densus 88 Kerahkan Personel, Amankan Perayaan Malam Tahun Baru 2019

Brigjen Pol Dedi Prasetyo menegaskan, sejauh ini Densus 88 dan unit lain di Mabes Polri tetap melakukan pergerakan secara senyap.

Tribun Jabar/Siti Masithoh
Kemacetan di Jalan Dewi Sartika, Bandung, tiga jam sebelum tahun baru 2018, Minggu (31/12/2018) 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, mengungkapkan Densus 88 mengerahkan kekuatannya untuk pengamanan perayaan malam tahun baru 2019.

Pengamanan ini untuk mengantisipasi potensi ancaman terorisme yang ingin mengacaukan pesta malam tahun baru.

Sejumlah lokasi menjadi fokus pengamanan dari tim Densus 88.

"Satgas Antiterorisme dan Densus 88 bekerja semaksimal mungkin untuk antisipasi dan mitigasi seluruh potensi ancaman terorisme. Baik itu di tempat-tempat ibadah atau tempat keramaian maupun di tempat pesta pergantian tahun baru, seperti di Bali itu fokus, kemudian di Jakarta, dan beberapa daerah di Jawa," ujar Brigjen Pol Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi, Senin (31/12/2018).

Brigjen Pol Dedi Prasetyo menegaskan, sejauh ini Densus 88 dan unit lain di Mabes Polri tetap melakukan pergerakan secara senyap untuk mendeteksi potensi gangguan dari kelompok teroris.

Menurutnya, pergerakan secara senyap ini dilakukan agar tidak tercipta kepanikan di tengah masyarakat.

"Sejauh ini bukan berarti densus 88 sama Satgas antiterorisme itu diam, itu bergerak terus tapi secara silent. Densus dan satgas antiterorisme itu bergerak terus tanpa diketahui masyarakat. Karena kalau diketahui masyarakat justru akan membuat masyarakat jadi takut, jadi khawatir, bahkan panik," jelas Brigjen Pol Dedi Prasetyo.

Sejumlah kelompok menjadi fokus pemantauan dari Densus 88.

Seperti sel tidur kelompok teroris hingga mantan napi teroris yang belum mendapatkan program deradikalisasi.

"Satgas itu terus memantau sleeping cell yang memiliki potensi akan bangkit terus dipantau. Kemudian eks napiter yang belum dapat dideradikalisasi itu juga masih-masih memiliki pemahaman radikal itu terus diikuti 24 jam," ungkap Brigjen Pol Dedi Prasetyo.

Pemantauan tersebut dilakukan secara konvensional maupun melalui penelusuran melalui teknologi informasi. Hal ini dilakukan untuk pencegahan potensi serangan teroris.

"Jadi setiap ada hal-hal yang mencurigakan potensi-potensi dia akan melakukan serangan, Polri memiliki UU 5/2018 bisa melakukan tindakan Preemptive strike dalam rangka untuk pencegahan dan mitigasi aksi terorisme," pungkas Brigjen Pol Dedi Prasetyo.(*)

Editor: Ravianto
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved