PVMBG Pantau Gunung Api Saat Libur Natal, Ada 20 Gunung Api Beraktivitas di Atas Normal
PVMBG membentuk tim antisipasi kebencanaan geologi di masa libur Natal dan tahun baru.
Penulis: Resi Siti Jubaedah | Editor: taufik ismail
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Resi Siti Jubaedah
TRIBUNAJABAR.ID, BANDUNG - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) membentuk Tim Antisipasi Kebencanaan Geologi, yang tergabung dalam Posko Nasional ESDM di Jakarta maupun Posko Kesiapsiagaan di Kantor PVMBG Bandung.
Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan menjelang Hari Natal 2018 dan tahun baru 2019.
"Dalam rangka kesiapsiagaan libur Hari Natal 2018 dan tahun baru 2019, tetap gunung api kami pantau 24 jam. Khusus untuk masa periode ini mengirimkan tim-tim untuk antisipasi kebencanaan yang tegabung dalam posko nasional," ujar Kasubbid Mitigasi Bencana Gunungapi Wilayah Barat, Kristianto, di Gedung PVMBG, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (18/12/2018).
PVMBG juga telah mengirim Tim Tanggap Darurat Bencana Gunung api ke beberapa gunung api yang saat ini mengalami aktivitas vulkanik.
Gunung api tersebut di antaranya Gunung Sinabung, Gunung Anak Krakatau, Gunung Agung, dan Gunung Soputan.
Menurut Kristianto, terdapat 20 gunung api di Indonesia tingkat aktivitasnya di atas normal.
Satu di antaranya berada dalam tingkat aktivitas level IV atau awas, yaitu Gunung Sinabung.
• Berkat Jabar Quick Response,Rumah Rusak Milik Hindun di Gunung Halu pun Diperbaiki
• Foto Gunung Semeru Bertopi Viral di Medsos, Ternyata Fenomena Alam Biasa, Begini Penjelasannya
Dua gunung berada dalam tingkat aktivitas level III atau siaga, yaitu Gunung Soputan dan Gunung Agung.
Tujuh belas gunung lainnya dalam tingkat aktivitas level II atau waspada.
Tujuh belas gunung api tersebut adalah Gunung Marapi, Gunung Kerinci, Gunung Anak Krakatau, Gunung Bromo, Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Rinjani, Gunung Sangeangapi, Gunung Rokatenda, Gunung III Lewotolok, Gunung Lokon, Gunung Karangetang, Gunung Gamalama, Gunung Gamkonora, Gunung Ibu, Gunung Dukono, dan Gunung Banda Api.
Gunung Merapi Luncurkan Lava Pijar
Lava pijar kembali terlihat meluncur di puncak Gunung Merapi (2.930 mdpl), Minggu (16/12/2018) malam.
Dilansir dari Kompas.com, guguran dan luncuran lava pijar itu terpantau terjadi pukul 19.08 WIB. Luncuran mengarah ke tenggara, dan dapat terlihat jelas dari Dusun Balerante, Kemalang, Klaten.
“Betul, tadi terpantau pukul 19.08,” kata Agus Sarnyata, Minggu.
Dari rekaman CCTV malam ini, guguran itu berlangsung lumayan lama, memperlihatkan lelehan lava pijar menyusuri bukaan kawah ke lereng selatan.
• Muncul Kubah Lava Baru di Gunung Merapi, BPBD Tingkatkan Kesiapsiagaan
• Viral di Medsos Fenomena Gunung Semeru Bertopi, Sutopo: Buat Foto Prewedding, Sungguh Memesona!
Dilihat dari jalurnya, diduga lava masuk hulu Kali Gendol. Jarak kemungkinan di atas 300 meter, lebih jauh dari luncuran lava pijar pertama beberapa pada 22 November 2018.
Kawasan Merapi, sejak Minggu siang hingga malam, terlihat cerah setelah Sabtu (15/12/2018) malam hingga Minggu pagi diselimuti kabut tebal.
Puncak Merapi dapat terlihat dari segala arah.
Jainu, tokoh dan warga Balerante menambahkan, situasi di lapangan masih tetap normal. Tidak ada kepanikan terkait fenomena guguran lava ini.
Gunung Semeru Bertopi
Warganet di media sosial dihebohkan dengan fenomena alam nan unik di Gunung Semeru, Jawa Timur, Senin (10/12/2018).
Foto fenomena alam di Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu pun tersebar di media sosial.
Di foto yang beredar, tampak kabut berbentuk mirip topi mengelilingi puncak Gunung Semeru.
Fenomena unik ini lantas diabadikan oleh warga dan menyebar di media sosial serta jadi viral.

Di satu sisi, fenomena unik di puncak Gunung Semeru tersebut menakjubkan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho memberikan penjelasan terkait kondisi Gunung Semeru yang 'bertopi.'
Lewat akun Twitter-nya, Sutopo pun menjelaskan, jika fenomena Gunung Semeru 'bertopi' adalah fenomena alam yang biasa saja.
• Viral di Medsos Fenomena Gunung Semeru Bertopi, Sutopo: Buat Foto Prewedding, Sungguh Memesona!
Sebab, puncak Gunung Semeru tertutup awan jenis lentikularis atau altocumulus lenticularis.
"Awan ini terbentuk akibat adanya pusaran angin di puncak," tulis Sutopo.
Pria asal Boyolali ini pun meminta masyarakat untuk bersikap biasa saja dan tidak mengaitkan fenomena ini dengan mistik atau politik.
"Ini fenomena alam biasa saja. Tidak usah dikaitkan dengan mistis apalagi politik," sambung Sutopo.

Sementara itu, fenomena gunung berselimut awan lentikular ini merupakan hal yang kerap terjadi di gunung-gunung di wilayah Jawa Tengah.
Dikutip dari berbagai sumber, Lenticular Clouds atau awan Lenticular adalah sejenis awan yang unik yang biasanya terbentuk di sekitar bukit-bukit dan gunung-gunung akibat hasil pergerakkan udara di kawasan pergunungan.
Awan ini terlihat cukup berbeda, seperti sebuah piring terbang raksasa atau sesuatu yang seperti tumpukan mirip pancake.
Menariknya, awan Lenticular kelihatan begitu padat, namun hakikatnya tidak demikian.
• Ranu Pani Sempat Membeku, Ini Foto-foto Indahnya Danau di Lereng Gunung Semeru Itu
Awan ini terlihat padat lantaran aliran udara lembap terus-menerus mengaliri awan dan akan keluar lewat permukaan paling bawah.
Sehingga bentuk awan Lenticular akan bertahan hingga berjam-jam, bahkan berhari-hari.
Bagi dunia penerbangan awan Lenticular sangat mematikan.
Pasalnya, awan bisa menyebabkan turbulensi bagi pesawat yang nekad memasuki awan atau hanya terbang di dekat awan Lenticular.

Turbulensi adalah sebuah gerakan udara yang tidak beraturan atau berputar tidak beraturan yang disebabkan oleh perbedaan tekanan udara atau temperatur.
Sementara bagi para pendaki, keberadaan awan ini menjadi mimpi buruk walau terlihat cantik dari kejauhan.
Sebab, jika awan ini muncul cuaca di sekitarnya akan berubah menyeramkan, terjadi badai disertai hujan, hingga tak jarang kilat yang menyambar-nyambar.