Dari Rp 250 Juta Saksi Hanya Terima Rp 25 Juta, Dana Hibah Pemkab Tasikmalaya Dipotong 90 Persen

Sejumlah penerima dana hibah Pemkab Tasikmalaya memberikan kesaksiannya di sidang kasus dugaan korupsi dana hibah Pemkab Tasikmalaya

Dari Rp 250 Juta Saksi Hanya Terima Rp 25 Juta, Dana Hibah Pemkab Tasikmalaya Dipotong 90 Persen
Tribunjabar/Mega Nugraha
Sejumlah penerima dana hibah Pemkab Tasikmalaya memberikan kesaksiannya di persidangan kasus dugaan korupsi dana hibah Pemkab Tasikmalaya 2017, di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (17/12/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sejumlah penerima dana hibah Pemkab Tasikmalaya memberikan kesaksiannya di sidang kasus dugaan korupsi dana hibah Pemkab Tasikmalaya 2017, di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (17/12/2018). Sebanyak delapan saksi dihadirkan.

Salah satunya adalah Kandi ‎(29), pengurus Yayasan Al Munawaroh Cibogo yang merupakan yayasan penyelenggara pendidikan keagamaan yang didirikan almarhum orangtuanya.

"Saya meneruskan yayasan milik almarhum (orangtua). Ada pendidikan diniyah, majelis taklim. Sebelum ada kasus ini belum berbadan hukum, tapi diurus sama Setiawan (terdakwa) untuk mencairkan dana hibah," ujar Kandi menjawab sejumlah pertanyaan dari Andi Adika Wira selaku jaksa penuntut umum hingga M Razad selaku ketua majelis hakim.

Bangunan yayasannya sempat akan roboh. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Setiawan dan menjelaskan soal kondisi bangunan tempatnya mengajar. Setiawan menawarkan bantuan hibah dari Pemkab Tasikmalaya, syaratnya hanya menyerahkan KTP, tanda tangan dan buka rekening Bank BJB.

Selebihnya, soal pembuatan proposal hingga akta pendirian yayasan diurus oleh Setiawan. Seperti diketahui, penerima hibah harus berbentuk badan hukum.

Pajak Mini Cooper Seharga Rp 12 Ribu Kisaran Rp 216 juta, Bukalapak Tak Menanggung Pajak

"Saya awam sekali soal ini, kata Setiawan semuanya akan diurus, mulai dari pembuatan proposal hingga semua syarat lainnya untuk proses pencairan. Beberapa hari sebelum pencairan, Setiawan memberi kabar bahwa dana bisa dicairkan Rp 150 juta. Saya senang sekali karena bisa memperbaiki tempat saya yang mau roboh," ujar Kandi di persidangan.

Ia akhirnya mencairkan dana Rp 150 juta ke Bank BJB di Kabupaten Tasikmalaya. Ia pun menandatangani sejumlah berkas salah satunya tanda tangan pencairan. Namun, betapa kagetnya dia, uang Rp 150 juta itu hanya diterima dalam sekejap hitungan detik saja.

"Ternyata saya hanya menerima Rp 15 juta, sisaya dibawa Setiawan. Saya keberatan tapi hanya bisa protes dalam hati saja, uang Rp 15 juta hanya bisa pasang lantai keramik saja," ujar‎ Kandi. Baru saat ia diperiksa oleh penyidik Ditreskrimsus Polda Jabar, ‎ia menyampaikan keberatannya secara tertulis.


Halaman
12
Penulis: Mega Nugraha
Editor: Ichsan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved