Rumah Batu 'Patrick Spongebob' di Wonogiri Seharga Rp 100 Juta, Butuh 6 Bulan Baru Rampung
Sebuah rumah batu mirip rumah Patrick di kartun Spongebob Squarepants menjadi viral di media sosial.
Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi | Editor: Tarsisius Sutomonaio
TRIBUNJABAR.ID- Sebuah rumah batu mirip rumah Patrick di kartun Spongebob Squarepants menjadi viral di media sosial.
Rumah batu mirip rumah Patrick di kartun Spongebob Squarepants itu terdiri dari dua lantai.
Penampakan depannya rumah batu itu benar-benar mirip batu berwarna hitam.
Rumah batu 'Patrick Spongebob' itu berada di Dusun Mujing, Desa Genengharjo, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Melansir dari Kompas.com, rumah batu tersebut milik Sutini dan sudah dibagikan di Facebook sebanyak 1.721 kali.
Rumah batu 'Patrick Spongebob' itu dibangun
pada 16 tahun yang lalu.
Suami Sutini, Loso membangun rumah batu 'Patrick Spongebob' itu dengan konstruksi dinding dan atapnya disemen semua.
Pembangunan rumah batu 'Patrick Spongebob' seluas 9 x 9 meter itu dikerjakan oleh lima pekerja selama enam bulan.
Rumah batu 'Patrick Spongebob' memang sengaja didesain seperti batu.
Meski begitu, rumah batu tersebut tidak terinspirasi dari kartun Spongebob Squarepants atau film mana pun.
Pembangunan memakan biaya kira-kira Rp 100 juta.
"Pembangunan rumah batu itu sekitar tahun 2002 setelah setahun saya lulus STM.
Rumah itu dibangun lima orang dan dikerjakan selama enam bulan dengan biaya sekitar seratusan juta rupiah.
Saat ini yang tinggal di rumah batu ibu dan nenek saya," kata Nurwono, putra sulung Sutini kepada Kompas.com, Kamis ( 5/12/2018).
Nurwono mengatakan ayahnya memang sering membangun rumah dan taman sehingga inspirasi bentuk rumahnya dari batu yang ada di taman.
"Jadi inspirasi pembuatan rumah batu tidak ada kaitannya dengan film. Karena saat itu belum ada film SpongeBob.
Pembangunan rumah itu berawal dari keinginan bapak saya yang suka membuat taman. Taman itu biasanya ada batu-batu bulatnya.
Lalu tercetus ide bapak saya kalau batu itu dibuat rumah itu jadinya seperti apa," kata Nurwono.
Selain itu, Loso memang tak ingin membangun rumah seperti rumah pada umumnya.
"Bapak saya sukanya yang nyeleneh. Makanya bapak saya membuat rumah batu," ujar Nurwono.
Nurwono mengatakan saat siang hari ruangan rumahnya tidak terasa panas justru saat malam hari yang terasa panas.
"Siang hari rumahnya kena matahari panas imbasnya ke malam. Sementara kalau malam cuaca di luar dingin sehingga saat siang di dalam rumah malah tidak panas," jelas Nurwono.
Walaupun berbentuk batu, rumah batu itu tidak terasa pengap.
Saat dibangun, dibuat jendela agar sirkulasi udara lancar.
Lantai satu diisi dengan kamar dan ruang tamu yabg diberikan sekat.
Sementara lantai dua dibiarkan kosong.
Nurwono mengatakan rumahnya jadi sering dikunjungi orang setelah viral.
Setiap harinya kira-kira ada 300 orang yang datang untuk melihat rumahnya karena penasaran dan ingin melihat secara langsung.
"Pengunjung masuk ke rumah sampai ke lantai dua untuk foto-foto dan swafoto. Ada yang dibuat dokumen pribadi dengan pengambilan gambar video.
Tetapi kami malah senang mendapatkan kunjungan dari banyak orang," jelas Nurwono.
"Saat datang ke rumah, banyak yang bilang mau buat rumah batu tetapi soal realisasinya benar atau tidak saya tidak tahu," ucap Nurwono.
Kendati berbentuk unik, rumah batu juga memiliki fungsi sosial. Saat gempa dan bencana longsor tiba, banyak tetangga yang mengungsi di rumah batu.
"Para tetangga merasa aman kalau tinggal di rumah. Karena rumah itu tidak akan roboh," kata Nurwono.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/rumah-batu.jpg)