Dirut Persija Jakarta: Match Fixing Indonesia Sudah Biasa, Ada Orang Mengaku Maling tapi Didiamkan

"Match fixing Indonesia sudah biasa, tapi apakah ada buktinya? Saya mantan lawyer, ada orang mengaku maling tapi didiamkan saja," kata Gede Widiade

Dirut Persija Jakarta: Match Fixing Indonesia Sudah Biasa, Ada Orang Mengaku Maling tapi Didiamkan
Tribunnews/HO/Media Persija Jakarta
Direktur Utama Persija Jakarta, I Gede Widiade, saat ditemui di Lapangan ABC, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, Senin (14/5/2018). 

TRIBUNJABAR.ID- Direktur Utama Persija Jakarta, Gede Widiade, menyebut isu pengaturan skor bukanlah masalah baru dalam sepak bola Indonesia.

Sebagai orang yang sudah lama berkecimpung di dunia sepak bola nasional, Gede Widiade sudah merasakan segala intrik dan politik sepak bola dalam negeri.

Hanya, menurut Gede, masalah ini terus-menerus terjadi lantaran pembiaran dan tak adanya tindak lanjut atau upaya kongkret untuk memberantasnya.

"Match fixing Indonesia sudah biasa, tapi apakah ada buktinya? Saya mantan lawyer, ada orang mengaku maling tapi didiamkan saja," kata Gede Widiade dalam diskusi PSSI Pers di Kemang, Jumat (30/11/2018).

Mario Gomez Beri Instruksi Ini Agar Persib Bandung Tak Tersandung di Markas Persela Lamongan

Sambut Natal dan Tahun Baru, Resto Belle Vue Elevate Bandung Hadirkan Tema Musim Dingin

"Buat apa membicarakan itu? Kalau malingnya sudah mengaku tapi enggak ditangkap buat apa. Saya mau tanya nih, gubernur korupsi ditangkap KPK."

"Kalau match fixing, kerugiannya ratusan miliar. Persija saja mengeluarkan uang Rp 50 miliar. Tim-tim lain Rp 30 miliar dan ada juga Rp 20 miliar. Kalau match fixing tidak diselesaikan tuntas, ya sepak bola akan begini-begini saja," ujarnya.

Pria asal Surabaya berdarah Bali itu juga meminta masyarakat untuk turut membantu PSSI dalam memerangi masalah ini.


Menurutnya, aksi dari masyarakat juga dibutuhkan, bukan hanya menuntut kepada stakeholder sepak bola nasional.

"Match fixing itu pidana, pengaturan skor pidana, kalau bukan delik aduan harusnya polisi tangkap. Kalau delik aduan, siapa merasa dirugikan, kalau federasi enggak berani, harus masyarakat yang melakukan class action, sangat mudah," tuturnya.

"Biasa di Indonesia, teriak-teriak, sepuluh menit hilang. Dulu contohnya, ketika saya manajer SEA Games, saya membiayai pribadi tapi saya dituduh oleh seseorang yang bersembunyi di balik benteng kuat."

"Lucunya lagi saya dituduh suap Rp 100 juta, padahal saya mengeluarkan uang miliaran. Saya harus tuntut? Saya tahu kredibilitas yang bikin isu, sama-sama saja. Soal PSSI, serakan federasi karena aturan dan statutanya jelas," ucapnya

Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: BolaSport.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved