Atap Kelas SD Kertajaya Ambruk, Siswa Terpaksa Belajar Berdesak-desakan

Atap kelas di SDN Kertajaya, Desa Kawitan, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, ambruk kemarin siang.

Atap Kelas SD Kertajaya Ambruk, Siswa Terpaksa Belajar Berdesak-desakan
Tribun Jabar/Isep Heri
Ruang kelas di SD Kertajaya, Salopa, Tasikmalaya, yang atapnya ambruk. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Isep Heri

TRIBUNJABAR.ID, TASIKMALAYA - Diguyur hujan deras atap kelas di Sekolah Dasar Negeri Kertajaya, Desa Kawitan, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, ambruk pada Senin (12/11/2018) siang kemarin.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian yang terjadi sekitar pukul 13.30 WIB tersebut.

Kepala Sekolah SD Negeri Kertajaya , Uus Kusnadi, mengatakan pada saat kejadian siswa sudah dipulangkan.

"Alhamdulillah pada saat kejadian kemarin murid sudah pulang," kata Uus saat ditemui Tribun Jabar, Selasa (13/11/2018).

Ruangan kelas yang berukuran 4x6 meter persegi tersebut merupakan ruangan kelas V.

Kendati demikian, proses belajar mengajar di SD Negeri Kertjaya sehari setelah kejadian tidak terganggu.

Siswa melewati kelas yang atapnya ambruk di SD Kertajaya, Tasikmalaya.
Siswa melewati kelas yang atapnya ambruk di SD Kertajaya, Tasikmalaya. (Tribun Jabar/Isep Heri)

Ruangan yang dibangun pada 2010 lalu ini, kata Uus, memang sudah rawan ambruk, sehingga sedari 2015 ruangan tidak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Bahkan sebelum ambruk pihak sekolah sudah mengupayakan dengan cara menyangga atap ruangan dengan balok kayu.

"Imbasnya murid kelas lima sebanyak 47 orang, memakai ruangan kelas enam. Terus yang kelas enam sejumlah 53 siswa yang biasa dibagi jadi dua rombongan belajar menjadi berdesakan satu kelas," ucap Uus.

Adanya kejadian tersebut dikhawatirkan Uus akan terjadi juga di ruangan guru dan kepala sekolah yang berada di samping ruangan kelas lima yang atapnya ambruk.

Foto atap kelas ambruk di SD Kertajaya, Tasikmalaya.
Foto atap kelas ambruk di SD Kertajaya, Tasikmalaya. (Tribun Jabar/Isep Heri)

Pasalnya, kondisi atap di ruangan itu juga sudah tampak rawan jika terus diguyur hujan yang deras.

"Karena khawatir kami berencana untuk sementara tidak menggunakan sejumlah ruangan dan memindahkan sementara ruang kepala dan guru," ujarnya.

Dia menambahkan, sedari 2015 sudah melaporkan mengenai kerawanan ini, tapi tidak ada tanggapan dari pemerintah daerah setempat, sampai akhirnya ambruk.

Penulis: Isep Heri Herdiansah
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved