Banjir Bandang Cipatujah

Warga Desa yang Sempat Terisolir Akibat Jembatan di Cipatujah Ambruk Sangat Membutuhkan Bantuan

Warga yang jaraknya dekat Jembatan Pasanggrahan terlihat tengah membersihkan perabotan serta rumah mereka yang dipenuhi lumpur.

Penulis: Isep Heri Herdiansah | Editor: Dedy Herdiana
Tribun Jabar/Isep Heri
Warga Kampung Jepara Satu, Desa Ciandum, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya sedang membersihkan sisa lumpur di rumahnya akibat banjir bandang yang melanda beberapa hari lalu, Kamis (8/11/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Isep Heri

TRIBUNJABAR.ID, TASIKMALAYA - Hari ketiga pasca-banjir bandang yang melanda Kecamatan Cipatujah, sejumlah desa yang sempat terisolir mulai bisa diakses melalui perahu karet atau melalui jembatan gantung alternatif.

Satu di antaranya adalah Desa Ciandum, yang berada dekat dengan lokasi ambruknya Jembatan Pasanggrahan yang diterjang banjir bandang.

Saat Tribun Jabar berhasil mendatangi lokasi pada Kamis (8/11/2018) warga yang jaraknya dekat Jembatan Pasanggrahan terlihat tengah membersihkan perabotan serta rumah mereka yang dipenuhi lumpur.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sejumlah warga bergantung kepada kerabat mereka yang tidak terdampak, lantaran belum ada satupun bantuan yang datang.

Utir (52), warga Kampung Jepara Satu RT 1/ RW 1 Desa Ciandum, mengatakan, rumah yang ia tinggali sempat terendam air dengan ketinggian hingga 1,5 meter.

“Hingga saat ini, belum ada satupun bantuan dalam bentuk apapun,” keluh Utir saat dijumpai di rumahnya yang terletak sekitar 50 meter dari bibir Sungai Cipatujah.

Rumahnya terendam air, ia pun terpaksa menumpang di rumah kerabatnya.

Mobilisasi Alat Berat untuk Pemasangan Jembatan di Tasikmalaya Hadapi Kendala

Atasi Masalah Akses Warga Cipatujah yang Terisolir, Tim Gabungan Siapkan Dermaga dan Perahu Karet

Warga Terpaksa Menantang Bahaya, Lewati Jembatan Gantung untuk Seberangi Sungai Cipatujah

Setelah air surut, ia kembali pulang ke rumah sambil menata seluruh perabot rumah tangga yang tersisa.

Utir mengaku, saat ini ia sangat membutuhkan bantuan berbagai kebutuhan mendasar seperti makanan, pakaian, dan air bersih.

Warga lainnya, Dono Herdiana (60) juga mengaku sangat membutuhkan bantuan mendasar tersebut.

Terlebih, saat ini, beberapa harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga.

“Gas melon biasanya Rp 20 ribu jadi Rp 30 ribu. Bensin biasanya Rp 10 ribu jadi Rp 15 ribu. Beras biasanya Rp 10 ribu jadi Rp 18 ribu,” kata Dono.

Isu Pengunduran Diri Bupati Indramayu Anna Sophanah Berembus Sejak Setahun Lalu

Arkeolog Temukan Jalur Kereta Api Masa Sunan Gunung Djati dan Kolonial Belanda di Cirebon- Indramayu

Selain itu, ia juga mengaku sangat membutuhkan air bersih, karena sumur yang biasa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan air, saat ini kondisinya sangat keruh.

Selama banjir merendam, ia mengaku tak berani meninggalkan rumah karena tak ingin rumahnya menjadi sasaran pencuri.

Ketua RT setempat, Endang (60) mengatakan dari 46 rumah yang ada, sebanyak 36 rumah terendam pada saat kejadian dan baru surut hari ini.

"Kebutuhan warga saat ini selain pakaian, makanan, obat-obatan, peralatan sekolah, juga membutuhkan mesin penyedot lumpur," ujar Endang.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved