Sulit Temukan Generasi Milenial yang Mau Membatik, Katura Ingin Konsisten Terapkan Batik Tulis

Meski sekarang ini sulit menemukan anak muda yang punya keinginan membantik, Batik Katura masih tetap berupaya mempertahankan batik tulis

Sulit Temukan Generasi Milenial yang Mau Membatik, Katura Ingin Konsisten Terapkan Batik Tulis
Tribun Jabar/Siti Masithoh
Seorang perajin batik sedang membuat batik motif ikan yang dibanderol Rp 5 juta, di Sanggar Batik Katura, Desa Trusmi Kulon, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jumat (2/11/2018). Pengerjaannya membutukan waktu selama satu bulan. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Masithoh

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Meski sekarang ini sulit menemukan anak muda yang punya keinginan membantik, Batik Katura yang ada sejak 1974, di Desa Trusmi Kulon, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, masih tetap berupaya mempertahankan batik tulisnya yang khas.

Batik Katura juga tidak bisa dibeli secara langsung, melainkan pembeli harus memesannya terlebih dahulu.

Minimal waktu untuk menunggu sampai satu lembar batik selesai adalah satu bulan.

Paling lama proses pemesanan Batik Katura bisa mencapai tiga bulan, tergantung tingkat kerumitan.

Menurut pemiliknya, Katura AR (67), pengertian batik adalah karya seni rupa yang dituangkan pada kain menggunakan teknik menggunakan lilin sebagai pewarnanya.

"Kalau tidak ada sentuhan lilin, semestinya itu bukan batik," kata Katura AR saat ditemui di Sanggar Batik Katura, Desa Trusmi Kulon, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jumat (2/11/2018).

Ia mengaku, batiknya kerap disebut memiliki kualitas yang bagus karena banyak perajin batik yang tidak sanggup membuat tingkat kerumitan serta kehalusan layaknya Batik Katura.

"Pemasarannya dari sejak berdiri masih standar. Pelanggan masih tetap setia. Pembeli kita itu 80 persen dari Jepang, kata mereka itu Katura nomor satu," kata Katura AR sambil tersenyum.

Jusuf Kalla : Muda Praja IPDN Nantinya Jadi Ujung Tombak Pelayan Masyarakat

Finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2016 Ini Manfaatkan Media Sosial Untuk Promosikan Wisata dan Budaya

Sambil memperlihatkan desain-desain batik buatannya, Katura AR merasa takut regenerasi batik semakin punah.

Katura AR beserta istrinya, Kuriah (54), memiliki lima orang anak yang semuanya bisa membatik.

Namun, satu per satu dari anaknya pergi bersama keluarga kecilnya.

Seorang perajin batik sedang membuat batik motif rotan yang dibanderol Rp 5 juta, di Sanggar Batik Katura, Desa Trusmi Kulon, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jumat (2/11/2018). Pengerjaannya membutukan waktu selama satu bulan.
Seorang perajin batik sedang membuat batik motif rotan yang dibanderol Rp 5 juta, di Sanggar Batik Katura, Desa Trusmi Kulon, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jumat (2/11/2018). Pengerjaannya membutukan waktu selama satu bulan. (Tribun Jabar/Siti Masithoh)

"Kalau anak memang semua bisa membatik. Tapi, membatik itu perlu banyak dukungan orang lain juga. Saat ini cukup sulit menemukan anak muda (generasi milenial) yang mau membatik," ucap Katura AR.

Meski memiliki puluhan pegawai, Katura AR sesekali masih membatik untuk mengerjakan pesanan.

Penulis: Siti Masithoh
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved