Peternak Ikan Jaring Apung dan Keramba di Sungai Citarum, Profesinya akan Dialihkan ke Pariwisata

Jumlah jaring apung dan keramba budidaya ikan di sepanjang Sungai Citarum, terutama di perairan Saguling, Cirata, dan Jatiluhur

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Ichsan
TRIBUN JABAR/MEGA NUGRAHA
Anjing jenis herder berkeliaran di salah satu kolam ikan keramba jaring apung (KJA) di tengah Bendungan Ir H Juanda, Jatiluhur Purwakarta saat hari pertama penertiban KJA oleh Satuan Tugas (Satgas) Operasi Jatiluhur Bersih, Senin (3/4/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Jumlah jaring apung dan keramba budidaya ikan di sepanjang Sungai Citarum, terutama di perairan Saguling, Cirata, dan Jatiluhur, sudah belasan kali lipat dari batas maksimal. Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mengalihkan usaha jaring apung dan keramba ini menjadi usaha pariwisata.

"Kalau aturan perundangannya bukan tidak boleh, tetapi dibatasi. Posisi jumlahnya sekarang belasan kali lipat dari batas. Dan diduga tidak hanya milik warga lokal, ternyata ada pengusaha juga memanfaatkan ini," kata Gubernur Jabar Ridwan Kamil di Gedung Sate, Kamis (1/11/2018).

Kim Jeffrey Kurniawan Tetap Optimtistis Persib Juara, Ini Alasannya

Kolam jaring terapung dan keramba ini, kata Ridwan Kamil, paling banyak terdapat di Waduk Jatiluhur. Total keramba dan jaring terapung di sepanjang Sungai Citarum, hampir 30 ribu dari batas maksimal yang ditetapkan sebanyak 2.500 unit.

Para petani keramba dan jaring apung ini pun akhirnya harus meninggalkan profesi mereka seiring penertiban yang dilakukan Satgas Citarum. Usaha budidaya ikan ini, katanya, dilarang karena menghasilkan limbah sisa makan ikan yang membuat Sungai Citarum kian tercemar.


"Makanya visi saya adalah pariwisata, rakyat saya tidak boleh sengsara juga dengan dilarangnya itu. Dulu ke dapurnya sekian rupiah, terus gimana solusinya. Saya ingin push pariwisata jadi mengkonversi dari tadinya ngurus ikan menjadi ngurus restoran dengan income yang sama dan saya kira bisa dengan dengan visi pariwisata ini tinggal tunggu waktu," katanya.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan penataan Sungai Citarum yang paling segera dilakukan adalah penataan kawasan Oxbow Bojongsoang. Kawasan yang penuh sampah ini akan ditata seperri Teras Cikapundung di Kota Bandung.


"Dalam hitungan empat bulan, kalau diizinkan ada anggarannya, bisa kita sulap seperti Teras Cikapundung. Anggaran belum tahu tapi kalau Teras Cikapundung 800 meter itu sekitar Rp 15 miliar. Nah itu panjangnya belum dihitung," kata Emil.

Emil mengatakan masih menunggu respons berbagai pihak untuk menata kawasan tersebut. Jika tidak bisa tahun ini, penganggaran penataan ini untuk tahun depan.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved