Kurangi Risiko Kerusakan Rumah Akibat Likuifaksi dengan Cara Ini

Gempa bumi yang disertai likuifaksi berpotensi merusak rumah dan bangunan.

Kurangi Risiko Kerusakan Rumah Akibat Likuifaksi dengan Cara Ini
tribunnews.com
Kerusakan akibat fenomena likuifaksi gempa Palu 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Theofilus Richard

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Gempa bumi yang disertai likuifaksi berpotensi merusak rumah dan bangunan.

Tetapi ternyata ada cara untuk mengurangi risiko kerusakan pada rumah akibat likuifaksi.

Menurut peniliti geoteknologi LIPI Adrin Tohari, lantai rumah tidak boleh langsung menyentuh permukaan tanah.

Karena likuifaksi berpotensi langsung merusak fondasi dan lantai rumah yang menempel dengan tanah.

“Ketika terjadi likuifaksi, satu di antaranya ada semburan pasir, semburan pasir mengeluarkan air yang kencang tekanannya. Kalau lantai rumah bersentuhan langsung dengan tanah, pasti langsung rusak,” ujarnya ketika ditemui setelah Talkshow ‘Potensi Likuifaksi di Wilayah Cekungan Bandung’, Kafe Butterfield, Bandung, Rabu (24/10/2018).

Gomez Sebut Persib Punya Peluang Imbang dengan PSM Makassar dan Soroti Soal Wasit

Tokoh Sumpah Pemuda Ini Sukses Buat Lagu Indonesia Raya, Tapi di Masa Tuanya Jatuh Miskin

Karena itu, ia menyarankan posisi lantai harus ditinggikan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya di Padang, kata Adrin, jika tingkat penurunan tanah di atas 40cm maka berpotensi terjadi kerusakan.

Maka karena itu, berdasarkan kasus di Padang, maka, setidaknya posisi lantai harus setengah meter di atas permukaan tanah.

“Kalau kita kasih ruang kosong atau pasir atau brangkal, tekanan air akan dihempaskan ke ruang kosong itu,”  ujarnya.

Selain itu, fondasi rumah juga harus terikat kuat.

“Kalau fondasi harus terikat, jangan sampai terkena guncangan, sehingga lepas. Akhirnya saat likuifaksi, dia turunnya enggak sama. Itu fondasi melihat rumah yang dibangun di Jepang, fondasi di atas tanah,” ujarnya.

Selain itu, Adrin juga mengatakan karakteristik tanah yang berpotensi terjadi likuifaksi adalah tanah yang gembur.

“Tanah pasir yang gembur, bukan batu, dia juga jenuh air. Kalau gembur menunjukan kepadatan. Pasir gembur seperti pasir material yang belum dicampur semen,” ujarnya.

Penulis: Theofilus Richard
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved