Water Bombing Mulai Dilakukan di Petobo

Hari ini BNPB mulai melakukan water bombing di wilayah terdampak likuifaksi di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge. Kawasan tersebut tak boleh dihuni lagi.

Water Bombing Mulai Dilakukan di Petobo
(sanovra/tribuntimur.com)
Perumahan Petobo Kota Palu, Sulteng, porak-poranda setelah diguncang gempa 7,7 SR pada Jumat (28/9/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR. ID, BANDUNG - Helikopter MI-8 mulai melakukan water-bombing atau pengemboman material disinfektan di wilayah terdampak likuifaksi di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge, Sulawesi Tengah.

Pengemboman ini menjadi langkah yang efektif untuk menyiasati cakupan wilayah yang luas dan kondisi lapangan yang berpotensi terjadi amblesan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, pihaknya mengirimkan helikopter untuk membantu operasi water-bombing.

Mereka  berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Kementerian Kesehatan, dan Kesehatan TNI.

"Pengisian material disinfektan diisi ke dalam bucket atau ember yang telah dipersiapkan personel TNI melalui mobil tangki. Saat ini tengah berlangsung pengeboman disinfektan di wilayah Petobo," kata Sutopo melalui ponsel, Kamis (18/10/2018).

Penanganan wilayah terdampak likuifaksi tidak hanya melalui pengemboman udara, tapi juga fogging atau penyemprotan oleh para personel di darat. Langkah tersebut telah dilakukan di wilayah-wilayah yang dapat dijangkau di Petobo dan Balaroa.

Penyemportan juga dilakukan di halaman rumah sakit yang digunakan untuk mengumpulkan jenazah yang berhasil dievakuasi, seperti RS Undata, RS Madani, dan RS Bhayangkara.

Tindakan ini merupakan upaya untuk membasmi vektor yang dapat mengancam kesehatan lingkungan. Namun untuk solusi jangka panjang, penimbunan wilayah terdampak likuifaksi harus segera dilakukan.

Pengeboman maupun penyemprotan disinfektan ini merupakan upaya antisipasi penyebaran penyakit melalui vektor seperti lalat, kecoa, atau tikus.

Banyaknya korban meninggal yang diperkirakan masih tertimbun bangunan maupun tanah mendorong upaya antisipasi tersebut.

Di sisi lain, operasi evakuasi korban meninggal telah dihentikan tim gabungan pada 12 Oktober 2018, meskipun tidak tertutup kemungkinan mereka melakukan operasi evakuasi ketika mendapatkan laporan dari warga.

Penimbunan wilayah terdampak untuk dijadikan sebagai ruang publik sempat disampaikan pada pembahasan penanganan ke depan, kata Sutopo.

Dikutip dari rilis Komando Tugas Gabungan Terpadu Selasa (16/10), kata Sutopo, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulteng Ridwan Mumu menyampaikan lokasi Balaroa dan Petobo akan ditimbun terlebih dahulu dan ditetapkan sebagai pemakaman massal.

Selanjutnya pemerintah setempat akan menutup lokasi tersebut dan tidak boleh lagi ada pembangunan karena akan dibuat kawasan hijau dan monumen di dua lokasi tersebut.

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved