FKPT Jabar Gelar Diseminasi Hasil Penelitian Soal Daya Tangkal Warga Jabar Terhadap Radikalisme

penelitian yang dilakukannya bersama tim riset di Kabupaten Tasikmalaya menjadi naskah rujukan dan masukan bagi Pemprov

FKPT Jabar Gelar Diseminasi Hasil Penelitian Soal Daya Tangkal Warga Jabar Terhadap Radikalisme
ISTIMEWA
Sholehuddin, reviewer penelitian BNPT, memaparkan penyebab munculnya terorisme dalam diseminasi hasil riset FKPT Jabar di Hotel Savoy Homann, Bandung, Kamis (18/10). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jabar menggelar diseminasi hasil penelitian tentang signifikansi kesejahteraan dan kearifan lokal sebagai daya tangkap terhadap radikalisme, di Hotel Savoy Homann Bandung, Kamis (18/10). Hasil riset ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan persoalan penangangan radikalisme dan terorisme di daerah.

Ketua Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Penelitian FKPT Jabar, Dr Phil Gustiana Isya Marjani, berharap penelitian yang dilakukannya bersama tim riset di Kabupaten Tasikmalaya menjadi naskah rujukan dan masukan bagi Pemprov dan pemerintah kota/kabupaten.

"Kearifan lokal dan persoalan kesejahteraan rupanya menjadi variabel utama untuk melawan radikalisme di Jawa Barat. Ini dibuktikan dari hasil penelitian kami," kata Gustiana, di Savoy Homann, Kamis (18/10).

Sementara Ketua FKPT Jabar, Yaya Sunarya SH MM, mengatakan, persoalan teroris ini bukanlah masalah agama, melainkan persoalan politik dan ideologi. Jawa Barat kata Yaya selama ini dikenal sebagai gudangnya radikalisme terorisme, karena bibit terorisme yang sekarang ini memang dari Jawa Barat.

"Dari mulai perencanaan, pelaku, hingga aksi, semuanya ada di Jabar. Sel-sel tidur teroris saja di Jabar, dalam pengamatan kami mencapai 28 ribu pengikut," kata Yaya.

Pemprov Jabar, lanjut Yaya, sudah menyiapkan program Jabar Masagi. Program ini melibatkan pemerintah, pengusaha, mahasiswa dan media untuk menangkal paham-paham radikal di masyarakat.

"Kondisi masyarakat dan bangsa saat ini carut marut, mudah disusupi ideologi-ideologi asing. Untuk menghadapinya dibutuhkan nilai-nilai keluhuran bangsa yang mengedepankan imtak iptek, budi pekerti, dan kreativitas," ujarnya. (*)

Penulis: Machmud Mubarok
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved