Walhi Jabar Pertanyakan Izin Aktivitas Galian di Cibener, Nagreg

"Meskipun masuk ke dalam RTRW untuk tambang batu dan pasir, hingga saat ini belum jelas desa mana saja yang diperuntukan untuk tambang batuan dan pasi

Walhi Jabar Pertanyakan Izin Aktivitas Galian di Cibener, Nagreg
hakim baihaqi/tribun jabar
Galian pasir di Kampung Cibener, Desa Nagreg, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat, mempertanyakan perizinan aktivitas galian di Kampung Cibener, Desa Nagreg, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.

Dari pantauan Tribun Jabar, beberapa waktu lalu, lokasi galian pasir tersebut berada di sebuah bukit dan 100 meter tepat di bawahnya terdapat permukiman warga.

Saat aktivitas penggalian pasir dilakukan, warga mengaku, debu pasir dari lokasi galian kerap terbawa angin.

Warga mengeluhkan aktivitas galian karena mengotori halaman warga, terlebih di musim kemarau saat ini.

Selain itu, hilir mudik kendaraan berat pengangkut material pasir di jalan desa tersebut pun, diduga menjadi satu di antara penyebab kerusakan jalan. Rusaknya jalan juga dikeluhkan para pengguna jalan lainnya.

Evaluasi 11 BUMD, Wagub Jabar: Ada Perusahaan yang Tak Mampu Biayai Operasional Sendiri

Gempungan Warga Peduli Unpad Inginkan MWA Membentuk Tim Investigasi

Direktur Walhi Jabar, Dadan Ramdan, mengatakan bahwa berdasarkan perda no 27 tahun 2016 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung, dari 2016 - 2036, wilayah Kecamatan Nagreg memang diperuntukan untuk pertambangan pasir dan batuan.

"Meskipun masuk ke dalam RTRW untuk tambang batu dan pasir, hingga saat ini belum jelas desa mana saja yang diperuntukan untuk tambang batuan dan pasir," kata Dadan saat dihubungi Tribun Jabar, Jumat (12/10/2018).

Dadan mengatakan, setelah 2017, kebijakan untuk mengeluarkan izin galian hanya bisa dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, maka dari itu, bila tidak memiliki izin, pemerintah berkewajiban menutup galian tersebut.

"Apakah pihak penambang sudah punya izin atau tidak ? Sebaiknya pihak pemerintah untuk cek izin dan dampaknya," katanya.

Eri (45), warga Kampung Cibener, mengatakan, galian pasir tersebut mulai beraktivitas sejak tahun lalu dan tidak diketahui kedatangannya oleh masyarakat.

Ia menambahkan, warga sekitar pun khawatir, bila aktivitas galian pasir tersebut terus dilanjutkan terjadinya pergerakan tanah dan material galian menimbun permukiman rumah warga.

"Lihat saja, di atasnya sudah gundul, padahal sebelumnya itu rimbun dan sejuk juga," katanya.

Selain Eri, warga lainnya, Ina (40), mengatakan, di musim kemarau saat ini, udara di perkampungan sekitar lokasi galian pasir, berdebu dan tidak sejuk seperti beberapa tahun lalu.

"Lebih kebul dari biasanya, dalam satu hari, bisa tiga kali menyapu halaman rumah dan warung," katanya.

Spesifikasi Samsung Galaxy A7 - Dari Dapur Pacu, Baterai, Kamera, hingga Harga

18 Hari Istimewa di Bulan Oktober, Ada Hari Santri Nasional dan Hari Hak Asasi Binatang

Ada Pemadaman Listrik di Kota Bandung Hari Ini, Ini Jadwalnya

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved