Pascagempa Palu, Permintaan Simulasi Kegempaan ke DKPB untuk Gedung di Kota Bandung Meningkat

Sebelum terjadi gempa bumi Lombok dan Lombok, permintaan diadakannya simulasi oleh DKPB di gedung-gedung publik sangat sedikit.

Pascagempa Palu, Permintaan Simulasi Kegempaan ke DKPB untuk Gedung di Kota Bandung Meningkat
Tribunjabar/Ery Chandra
Ilustrasi Simulasi gempa 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kabid Penanggulangan Bencana, Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DKPB) Kota Bandung, Sihar Pandapotan, mengatakan, pascagempa bumi di Lombok dan Palu, permintaan dari pengelola gedung di Kota Bandung untuk diadakan kegiatan simulai kebencanaan termasuk simulasi gempa bumi meningkat.

Padahal, ujar dia, sebelum terjadi gempa bumi Lombok dan Lombok, permintaan diadakannya simulasi oleh DKPB di gedung-gedung publik hanya ada satu permintaan saja dalam sebulan.

"Simulasi itu yang saya katakan. Sebelum gempa Lombok dan Palu, permintaan ke kita untuk simulasi sedikit, lebih kita yang ke sana. Kalau dulu dalam sebulan bisa dibilang sekali, kebanyakan gedung, gedung publik. Kalau sekarang, dalam satu minggu ada dua permintaan," katanya saat ditemui Tribun Jabar di kantornya, Jalan Sukabumi, Kota Bandung, Jumat (12/10/2018).


Sihar mengatakan, pelaksanaan simulasi yang difasilitasi oleh DKPB sebetulnya tanpa dipungut biaya sekali.

Simulasi kebencaaan termasuk simulasi gempa bumi itu penting lantaran merupakan salah satu langkah mitigasi atau pengurangan dampak bencana.

"Simulasi ini sangat penting dan kami tidak memungut biaya sama sekali. Justru kami senang jika diadakan simulasi, berarti satu gedung setidaknya sudah mengetahui apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana gempa bumi," kata Sihar.

Dikatakannya, dalam simulasi itu, pihak DKPB hanya bertindak sebagai narasumber dan evaluator.

Live Streaming TvOne Bhayangkara FC Vs Sriwijaya FC, Laskar Wong Kito Pincang

Artinya, pelaksanaan simulasi harus dilakukan oleh pengelola gedung sendiri, sedangkan materi sebelum dilakukan simulasi dan proses evaluasi, dilakukan oleh DKPB.

"Mereka harus tahu, yang dilakukan oleh mereka benar atau belum. Kita yang ngajarin, sebagai narasumber, sebagai evaluator. Misal, gedung A nih mau simulasi, nanti kita evaluasi di mana sih titik lemahnya, karena yang nantinya menangani pertama adalah security dan pengurus gedung, baru kita sebagai evaluator, narasumber. Kita ngasih tahu dulu, kita narasumber dulu," ujar Sihar.

Materi simulasi kebencanaan yang disampaikan DKPB, katanya, sebetulnya pun cukup sederhana.

Materi itu hanya mencakup untuk si orang (penghuni) dan materi di gedungnya.

"Materi yang disampaikan itu adalah, siapa harus berbuat apa dan apa yang harus disiapkan. Artinya, siapa yang harus memberi tahu kepada penilik gedung, ke mana jalur evakuasi, apa yang harus disiapkan, misal petunjuk arah, dan lain-lain. Kalau ada roboh, siapa yang harus memberi tahu kepada orang harus lari ke mana. Sederhana sebetulnya," ujar Sihar.

Kebakaran yang Sebabkan 3 Korban Tewas Terletak di Lokasi Padat Penduduk, Damkar Sulit Padamkan Api

Cerita Perempuan 15 Tahun Gantikan Posisi Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan di Kabunet Jokowi

Penulis: Yongky Yulius
Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved