Rabu, 29 April 2026

Mengapa Likuifaksi Terjadi di Kota Palu Pascagempa? Ini Jawabannya

Sebagian tanah di daratan itu bergerak seperti air lumpur sungai, menyeret apa saja yang ada di permukaan.

Tayang:
Penulis: Yongky Yulius | Editor: Seli Andina Miranti
Istimewa/ tribunnews
Screenshots video terjadinya likuifaksi di Sulawesi Tengah. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dua permukiman di Palu, Balaroa dan Petobo, dilaporkan mengalami likuifaksi pascagempa bumi yang mengguncang Donggala dan Palu.

Sebagian tanah di daratan itu bergerak seperti air lumpur sungai, menyeret apa saja yang ada di permukaan dari beberapa meter hingga ada yang berkilometer.

Mengapa fenomena likuifaksi terjadi di Palu?

Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar, menjelaskan, Kota Palu berada di atas endapan aluvium yang terdiri dari jenis pasir, lanau, dan lempung yang berumur Holosen.

Kondisi tanah pasiran berbutir halus dan atau pasir yang jenuh air dengan kedalaman muka air tanah kurang dari 10 meter dari permukaan dan rentan terhadap guncangan gempa dapat menimbulkan fenomena likuifaksi.

"Kajian aspek geologi teknik menunjukkan potensi likuifaksi daerah Palu dan sekitarnya dikelompokkan menjadi tiga zona. Pertama, potensi sangat tinggin, penurunan tanah lebih dari lima sentimeter dan perpindahan lateral lebih dari 15 sentimeter. Kedua, potensi tinggi penurunan tanah kurang dari lima sentimeter dan perpindahan lateral lebih dari 10 sentimeter. Ketiga, potensi rendah, penurunan tanah kurang dari lima sentimeter dan perpindahan lateral kurang dari 10 sentimeter," ujar Rudy dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Tribun Jabar, Sabtu (6/10/2018).

Likuifaksi yang terjadi di Kota Palu dan sekitarnya, lanjutnya, diduga merupakan tipe likuifaksi siklik yang terjadi pada daerah dengan morfologi agak landai hingga hampir datar, serta likuifaksi tipe aliran terjadi pada daerah dataran yang jenuh air dan kerusakannya bersifat lokal.

Contoh likuifaksi siklik terjadi pada material yang belum padu dengan kontak batu lempung di bawahnya, sehingga menggelincirkan material tersebut dan bergerak ke bagian yang lebih rendah (seperti video dengan rumah yang bergerak yang telah beredar di masyarakat).

Puluhan Peserta Antusias Ikuti Sosialisasi Siaga Bencana Gempa, Ini Pentingnya Peduli pada Bencana

"Pergerakan ini akan berhenti dan terakumulasi di bagian yang elevasinya lebih rendah. Tanah yang mengalami likuifaksi akan mengering kembali seiring berjalannya waktu," ujar Rudy.

Contoh likuifaksi aliran terjadi pada wilayah pemukiman atau wilayah dengan bangunan ambles.

Hal ini karena, material pada bagian bawah keluar ke permukaan sehingga rumah -rumah diatasnya ambles.

Manisnya Ayam Bakar Merah Merona, Cocok untuk Kamu yang Sedang Wisata Kuliner di Kota Bandung

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved