Minggu, 26 April 2026

Cerita DN Aidit Kutu Buku dan Sempat Kerja di Perpustakan

Hobi membacanya kian menjadi saat bekerja sebagai penjaga perpustakaan milik seorang berkebangsaan Belanda sembari menjalani masa sekolah Middestand H

Penulis: Ery Chandra | Editor: Theofilus Richard
indonesia-zaman-doeloe.blogspot.co.id
DN Aidit (kiri) memberikan burung cenderawasih yang sudah diawetkan pada pemimpin China, Mao Zedong 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ahmad Aidit atau populer dikenal DN Aidit, adalah seorang kutu buku saat usianya masih muda.

Hobi membacanya kian menjadi saat bekerja sebagai penjaga perpustakaan milik seorang berkebangsaan Belanda sembari menjalani masa sekolah Middestand Handel School (MHS), sebuah sekolah dagang di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.

Hal itu diceritakan oleh putra keempat tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit, Ilham Aidit, ketika ditemui Tribun Jabar di Bandung, Minggu (30/9/2018).

Ia mengatakan pada usia 15 tahun, DN Aidit pergi merantau ke Jakarta untuk meneruskan pendidikan ke sekolah bernama MULO, tetapi terlambat mendaftar, sehingga akhirnya masuk sekolah dagang.

"Untuk membiayai sekolahnya, dia bekerja menjadi seorang yang mengatur, merawat perpustakaan, milik seorang Belanda. Dia disuruh menata, mengatur, mengklasifikasi, dan lainnya, buku-buku disitu," ujar Ilham Aidit.


Harimau Benggala Lahir di Bandung Zoo, Oded Beri Nama Donggalah

Tuduhan Komdis PSSI soal Bobotoh Lakukan Sweeping Disebut Manajer Persib Bandung Sebagai Fitnah

Dari aktivitas sehari-hari itu, kata Ilham, DN Aidit mulai berkenalan dengan buku-buku beraliran 'kiri' dan menjejali pemikiran dengan gagasan-gagasan besar beberapa tokoh semisal Karl Marx, Friedrich Engels, Friedrich Hegel, dan lain-lain.

"Buku-buku 'Das Capital' itu menjadi santapan yang dibaca oleh para negarawan, pendiri bangsa di zaman itu, semisal HOS Cokroamito, Sukarni, Sukarno, M. Hatta, M. Yamin, membaca buku wajib itu selain buku lainnya," ujar Ilham.

Ilham menuturkan luasnya wawasan dari buku yang dibaca DN Aidit juga terbukti membuatnya mudah bergaul dengan siapa saja, mulai dari kelas buruh hingga tokoh muda dan tua dalam pergeraka kemerdekaan Indonesia.

Ia bisa akrab dengan Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarno, Hatta, Amir Syarifuddin, Ahmad Subarjo, Sunaryo, Ki Hajar Dewantara, HOS Tjokroaminoto, dan lain-lain.

"Ketika zaman pergerakan kemerdekaan dia banyak bergaul dan berdiskusi sehingga akhirnya membawa dia menjadi komunis tulen," ujar Ilham.

Ilham mengatakan dalam perkembangan karakter dan kejiwaannya karena memiliki pengalaman masa kecilnya bergaul dengan berbagai kalangan di pertambangan timah di Belitung, membuatnya melihat secara langsung ketidakadilan antara kaum pemilik modal dan buruh.

"Sehari-hari melihat itu, maka pemahaman mengenai marxisme mudah dicerna olehnya," katanya.

Ratna Sarumpaet Minta Maaf karena Telah Bohongi Prabowo dan Amien Rais

Asisten Pelatih Persib Bandung: Jonathan Bauman Telepon Saya, Dia Bilang Sedih Disanksi Komdis PSSI

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved