Cerita DN Aidit Kutu Buku dan Sempat Kerja di Perpustakan
Hobi membacanya kian menjadi saat bekerja sebagai penjaga perpustakaan milik seorang berkebangsaan Belanda sembari menjalani masa sekolah Middestand H
Penulis: Ery Chandra | Editor: Theofilus Richard
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ahmad Aidit atau populer dikenal DN Aidit, adalah seorang kutu buku saat usianya masih muda.
Hobi membacanya kian menjadi saat bekerja sebagai penjaga perpustakaan milik seorang berkebangsaan Belanda sembari menjalani masa sekolah Middestand Handel School (MHS), sebuah sekolah dagang di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.
Hal itu diceritakan oleh putra keempat tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit, Ilham Aidit, ketika ditemui Tribun Jabar di Bandung, Minggu (30/9/2018).
Ia mengatakan pada usia 15 tahun, DN Aidit pergi merantau ke Jakarta untuk meneruskan pendidikan ke sekolah bernama MULO, tetapi terlambat mendaftar, sehingga akhirnya masuk sekolah dagang.
"Untuk membiayai sekolahnya, dia bekerja menjadi seorang yang mengatur, merawat perpustakaan, milik seorang Belanda. Dia disuruh menata, mengatur, mengklasifikasi, dan lainnya, buku-buku disitu," ujar Ilham Aidit.
Umuh Muchtar Belum Tahu Laga Persib Bandung Vs Madura United Digelar di Mana: Semua Bilang Ini Gila https://t.co/rDojIkMWvR via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) October 4, 2018
• Harimau Benggala Lahir di Bandung Zoo, Oded Beri Nama Donggalah
• Tuduhan Komdis PSSI soal Bobotoh Lakukan Sweeping Disebut Manajer Persib Bandung Sebagai Fitnah
Dari aktivitas sehari-hari itu, kata Ilham, DN Aidit mulai berkenalan dengan buku-buku beraliran 'kiri' dan menjejali pemikiran dengan gagasan-gagasan besar beberapa tokoh semisal Karl Marx, Friedrich Engels, Friedrich Hegel, dan lain-lain.
"Buku-buku 'Das Capital' itu menjadi santapan yang dibaca oleh para negarawan, pendiri bangsa di zaman itu, semisal HOS Cokroamito, Sukarni, Sukarno, M. Hatta, M. Yamin, membaca buku wajib itu selain buku lainnya," ujar Ilham.
Ilham menuturkan luasnya wawasan dari buku yang dibaca DN Aidit juga terbukti membuatnya mudah bergaul dengan siapa saja, mulai dari kelas buruh hingga tokoh muda dan tua dalam pergeraka kemerdekaan Indonesia.
Ia bisa akrab dengan Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarno, Hatta, Amir Syarifuddin, Ahmad Subarjo, Sunaryo, Ki Hajar Dewantara, HOS Tjokroaminoto, dan lain-lain.
"Ketika zaman pergerakan kemerdekaan dia banyak bergaul dan berdiskusi sehingga akhirnya membawa dia menjadi komunis tulen," ujar Ilham.
Ilham mengatakan dalam perkembangan karakter dan kejiwaannya karena memiliki pengalaman masa kecilnya bergaul dengan berbagai kalangan di pertambangan timah di Belitung, membuatnya melihat secara langsung ketidakadilan antara kaum pemilik modal dan buruh.
"Sehari-hari melihat itu, maka pemahaman mengenai marxisme mudah dicerna olehnya," katanya.
• Ratna Sarumpaet Minta Maaf karena Telah Bohongi Prabowo dan Amien Rais
• Asisten Pelatih Persib Bandung: Jonathan Bauman Telepon Saya, Dia Bilang Sedih Disanksi Komdis PSSI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/dn-aidit-mao-zedong-mao-tse-tung_20170921_121440.jpg)