Warga Kecamatan Cikancung Keluhkan Aktivitas Galian Pasir dan Batu

"Takut terjadi apa-apa, masalahnya rumah warga tidak begitu jauh dengan tempat galian, kalau sampai terjadi, warga jadi korban," katanya.

Warga Kecamatan Cikancung Keluhkan Aktivitas Galian Pasir dan Batu
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Lokasi pertambangan pasir dan batu tersebut berada di sebuah bukit dan 500 meter di bawahnya terdapat pemukiman padat penduduk. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Warga Kampung Cikamuning, Desa Mandalasari, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, mengeluhkan keberadaan aktivitas pertambangan batu dan pasir yang berada di sekitar penduduk.

Berdasarkan pantauan Tribun Jabar, lokasi pertambangan pasir dan batu tersebut berada di sebuah bukit dan 500 meter di bawahnya terdapat pemukiman padat penduduk.

Saat aktivitas penggalian dilakukan oleh para pekerja tambang, warga mengaku, debu pasir dari lokasi galian kerap berterbangan menganggu pernapasan, kondisi tersebut semakin parah karena bertepatan dengan musim kemarau.

Akses jalan perkampungan yang dilintasi oleh kendaraan pengangkut material pertambangan pun, sebagianya dalam kondisi rusak berbatu dan berdebu hingga kawasan pertambangan.

"Kondisi ini sudah berlangsung lama, sangat mengeluhkan, tetapi bisa berbuat banyak, kadang-kadang saya mikir, yang kasihan itu anak-anak," kata Osid (56), seorang warga di Kampung Cikamuning, Senin (1/10/2018).

Lampu Lalu Lintas di Kota Cimahi Masih Menggunakan Teknologi Lama

Kabar Terbaru Keke Tumbuan, Pemeran Ade Irma dalam Film G30S/PKI, Dia Bukan Artis Lagi

Di musim kemarau saat ini, kata Osid, bukit - bukit sekitar galian pertambangan dan pemukiman warga dalam kondisi gundul dan dikhawatirkan menimbulkan kejadian tanah longsor pada musim hujan.

"Takut terjadi apa-apa, masalahnya rumah warga tidak begitu jauh dengan tempat galian, kalau sampai terjadi, warga jadi korban," katanya.

Warga lainnya, Rosita (50), mengatakan, kalau ia kerap mengeluh terkait lalu lalangnya kendaraan pembawa material dari pertambangan, sehingga jalan di kampung menjadi kotor, tak terkecuali halaman rumah miliknya.

Dalam satu saja, Rosita melanjutkan, ia harus melakukan aktivitas membersihkan rumah lebih rutin dibandingkan ibu rumah tangga pada umummya, yakni empat kali dalam satu hari.

"Normal itu satu sampai dua kali, saya berharap pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan ini, karena bila begini terus, warga yang jadi korban, bukan pengusaha galian," katanya.

Fasilitasi Akses Komunikasi di Palu dan Sekitarnya, Pemerintah Sediakan Wifi Gratis di Sini

Dampak Gempa Donggala, Pengusaha Ritel Rugi Sekira Rp 450 Miliar

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved