Rupiah Melemah
Rupiah Melemah, Perajin Tempe dan Tahu di Tasik Resah, Kedelai Mahal
Meroketnya nilai tukar dolar berimbas terhadap harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama para pengrajin.
Penulis: Isep Heri Herdiansah | Editor: Kisdiantoro
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Isep Heri
TRIBUNJABAR.ID, TASIKMALAYA - Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), mengakibatkan sejumlah produsen tahu dan tempe di Kota Tasikmalaya resah.
Pasalnya meroketnya nilai tukar dolar berimbas terhadap harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama para pengrajin.
Keresahan dirasakan sejumlah perajin tahu dan tempe di RT 02/Rw 06 Kampung Nagkerok, Desa Sukamaju Kidul, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya misalnya.
Aji Santiaji (52), seorang pengrajin tahu mengatakan semenjak nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar, harga kedelai mengalami kenaikan hampir seribu rupiah.
• Ternyata yang Menjodohkan Ahok dengan Polwan asal Nganjuk Itu adalah Djarot Saiful Hidayat
"Dolar naik itu sangat berpengaruh pada harga kedelai yang saat ini Rp 7.550 perkilogramnya, padahal sebelumnya beli kedelai Rp 6.500 perkilonya," jelas Aji Santiaji saat ditemui di pabriknya, Kamis (6/9/2018) Pagi.
Kendati bahan baku yang didapatkan mengalami kenaikan, Aji mengaku tidak merubah ukuran maupun harga tahu yang ia produksi.
"Nanti kabur pelanggan, tahu masih dijual Rp150 sampai Rp 300 rupiah perbiji tergantung ukuran," ujarnya.
Dia menyatakan ada kemungkinan untuk memperkecil ukuran tahu jika situasi tetap seperti ini.
• Sempat Emosi Disinggung Soal Nikah, Nasib Sule Kini Akan Dipertaruhkan, Bisakah Kembali pada Lina?
Untuk mensiasati produksi tahu, di pabrik yang memiliki sebanyak 14 pekerja, Aji mengurangi produksi dari biasanya.
"Paling karena mengingat pekerja harus diberi upah, produksi yang biasanya bisa sampai 9 kwintal dikurangi menjadi 8 kuintal sudah beberapa hari ini," tuturnya.
Hal serupa juga dirasakan pengrajin tempe di wilayah tersebut, Hendra (52) misalnya.
Hendra dan perajin tempe lainnya belum berani mengurangi porsi ukuran tempe atau menaikan harga.
Alasannya ditakutkan pelanggan malah minggat dan tidak mampu bersaing ditengah persaingan industri tersebut.
• Ungkap Upaya Lengserkan Donald Trump, Pegawai Gedung Putih Kini Diburu
"Imbasnya bukan hanya pada kedelai saja, tapi bahan baku yang lain semisal plastik dan ragi ikut-ikutan naik," katanya.
Berbeda dengan Aji Santiaji, Hendra mengaku masih mempertahankan jumlah produksi meski sejumlah bahan baku mengalami kenaikan.
"Biasa kami produksi tempe sebanyak 2,7 kwintal sampai 3 kwintal. Dolar naik berpengaruh sama keuntungan tapi yang penting upah pegawai terbayar 350 ribu perminggunya," ujarnya.