Selasa, 14 April 2026

Tim Satgas ITB Survei Fasilitas Air Bersih di Lombok

Survei kebutuhan air baku di beberapa posko pengungsian korban bencana gempa bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat, kembali dilakukan oleh Tim Satgas ITB.

Penulis: Yongky Yulius | Editor: Theofilus Richard
Istimewa
Survei kebutuhan air baku di beberapa posko pengungsian korban bencana gempa bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat, kembali dilakukan oleh Tim Satgas ITB. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.ID, LOMBOK - Survei kebutuhan air baku di beberapa posko pengungsian korban bencana gempa bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat, kembali dilakukan oleh Tim Satgas ITB.

Survei ini dilakukan sebelum tim melakukan pengeboran air untuk kebutuhan pengungsi.

Dilakukan selama dua hari, 25-26 Agustus 2018, survei dipimpin oleh Dr. Bagus Endar dari Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks ITB.

Bagus mengatakan, karena letak posko pengungsian yang jauh dari sumber air, pengungsi gempa Lombok kesulitan mendapat air baku.

Walaupun ada sumur, belum tentu airnya juga ada.

“Jadi di Lombok Utara ini terutama kondisi geologisnya itu terdiri dari pasir yang lepas, vulkanik dari gunung berapi. Kemudian dia terbenam oleh air karena terkena getaran. Pasirnya seolah-olah jadi cairan dan naik ke atas, mengakibatkan sumur-sumur menjadi dangkal, memenuhi sumur sampai ke muka air tanah,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Tribun Jabar, Rabu (29/8/2018).

Maruf Amin Mundur dari Jabatan Ketua Umum MUI, Siapa Sosok Penggantinya?

Catat, Jadwal Penukaran Resi SIM Sementara dengan SIM Asli Satlantas Polrestabes Bandung

Akhrinya, daerah Pemenang, Tanjung, Selat, Gangga, dan sekitarnya, adalah lokasi yang dipilih saat survey.

Lokasi sumur di tiap daerah itu kemudian dicari dan dilihat posisinya.

Sumur yang masih memiliki air, diperiksa kualitas airnya, seperti tingkat keasaman atau PH, tingkat kehantaran listrik atau konduktifitas, kolom air, dan suhu.

"Pemeriksaan PH air sendiri menggunakan alat PH Meter. Air dikatakan memiliki PH yang baik dan bisa digunakan sebagai sumber air minum jika berada pada PH seimbang yaitu sekitar PH 7. Sementara konduktifitas diperiksa untuk melihat seberapa asin air sumur tersebut. Sedangkan kolom air diperiksa untuk melihat jumlah air yang masih bisa dipakai," kata Bagus.

Selanjutnya, daerah yang kekurangan air akan dibantu dengan pembuatan sumur bor.

Pembuatan sumur bor yang sudah mulai dilakukan sejak Senin (27/8/2018) itu tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama pada tiap sumur, karena beberapa daerah mempunyai kondisi tanah berbeda.

“Ada beberapa kondisi geologis yang agak beda. Bagian sisi barat ke arah Tanjung dan Kayangan itu pasir lepasnya luar biasa, tapi kalau Pemenang ke arah selatan dan timur beda lagi perlakuannya. Kalau di atas pegunungan itu dia sumurnya lebih dalam dan lapisannya lebih keras," kata Bagus.

Bor sepanjang dua meter tiap ruas dengan ukuran core barrel yang beragam dari satu inci hingga 3,5 inci disiapkan untuk menghadapi perbedaan lapisan tanah ini,

Selain itu, diharapkan pengeboran juga bisa memberdayakan tenaga masyarakat.

“Kita akan suplai tenaga ahlinya tapi kita akan coba melibatkan masyarakat sekitar karena kemungkinan besar mereka juga kehilangan mata pencaharian,” ujar Bagus.

Analisis PVMBG Soal Gempa di Yogyakarta pada Rabu 29 Agustus 2018 Dini Hari

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved