Kampung Tusuk Sate Bakal Tinggal Kenangan, Kini Hanya Manula, Anak Muda Ogah Buat Tusuk Sate

Hanya ada warga yang usianya di atas 50 tahun alias manula yang masih membuat tusuk sate.

Kampung Tusuk Sate Bakal Tinggal Kenangan, Kini Hanya Manula, Anak Muda Ogah Buat Tusuk Sate
tribunjabar/siti masithoh
Seorang perajin tusuk sate sedang membuat proses pembuatan tusuk sate Blok Kerandon, Desa Karangsari, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Selasa (21/8/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Masithoh

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Blok Kerandon, Desa Karangsari, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon dikenal sebagai Kampung Tusuk Sate sejak 60 tahun lalu.

Saat itu mayoritas masyarakat di sana membuat tusuk sate. Seiring berjalannya waktu, kini tidak ada generasi penerus yang membuat tusuk sate.

Hanya ada warga yang usianya di atas 50 tahun alias manula yang masih membuat tusuk sate.

Kisah Garong Kambing, 10 Ekor Dimasukan ke Avanza, Malam Jumat Tak Beraksi, 4 Orang Ditembak Mati

"Tidak ada regenerasi karena dianggap tidak menguntungkan. Satu ikat tusuk sate itu paling mahal dijual Rp 2500," ujar ketua Rt 03/04, Blok Kerandon, Desa Karangsari, Suhato (34), Selasa (21/8/2018).

Generasi muda di kampung Tusuk Sate ini kini lebih memilih menekuni usaha membuat kerajinan rotan dan membuat batu bata.


Menurut Suhato, yang menjadi keluhan perajin adalah bambu yang susah didapatkan dan proses pembuatan yang lama.

"Kemarin ada yang menawarkan pakai mesin. Tapi warga tidak mau dan memilih manual saja," katanya kepada Tribun Jabar.

Para perajin di sana, harus membeli bambu untuk membuat tusuk sate. Satu buah bambu biasanya Rp 15.000 hingga Rp 25.000.

Meskipun permintaan menjelang Iduladha meningkat hingga 50 persen, tidak ada kenaikan harga tusuk sate dari para perajin.


Proses pembuatan tusuk sate yaitu mulai dari pemotongan bambu, disisir kecil-kecil, dibuat lancip unjungnya, dijemur, dihaluskan, dan diikat.

Proses penjemuran bisa mencapai dua hari. Jika musim hujan, agar tidak berjamur, kayu didiamkan pada tempat yang terbuka atau banyak udara.

Satu bambu yang berukuran tujuh meter, akan diambil bagian tengahnya sekitar empat meter untuk digunakan sebagai tusuk sate.

Penulis: Siti Masithoh
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved