Diserang Hama dan Kurang Pasokan Air, Puluhan Hektare Padi di Suranenggala Lor Terancam Gagal Panen

Akibat terserang hama dan kurangnya pasokan air, puluhan hektare padi di Desa Suranenggala Lor, Kabupaten Cirebon terancam gagal panen.

Diserang Hama dan Kurang Pasokan Air, Puluhan Hektare Padi di Suranenggala Lor Terancam Gagal Panen
Tribun Jabar/Siti Masithoh
Seorang petani ketika sedang melakukan penyiangan tanamannya yang terancam gagal panen akibat serangan hama tikus, Desa Suranenggala Lor, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, Senin (6/8/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Masithoh

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Akibat terserang hama dan kurangnya pasokan air, puluhan hektare padi di Desa Suranenggala Lor, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon terancam gagal panen.

Hama yang menyerang padi tersebut adalah hama tikus. Akibatnya, tanaman tidak tumbuh secara normal.

Sejumlah petani di sana juga mengeluhkan keadaan tersebut dan terancam gagal panen.

Korban Gempa Lombok Tertimpa Bangunan Masjid Mulai Dievakuasi Gunakan Alat Berat, Lihat Videonya

Ratusan Wisatawan Asing dan Lokal Menunggu Evakuasi di 3 Lokasi Wisata Lombok Utara, Ini Videonya

Kondisi itu bermula saat awal musim kemarau yang menyebabkan tanaman kurang mendapat pasokan air.

Namun, setelah adanya pasokan air, tanaman justru terserang hama tikus dan rusak.

"Hingga umur dua bulan sekarang tidak dapat tumbuh normal alias kerdil," ujar seorang petani, Misadi (52) saat ditemui di lahannya di Desa Suranenggala Lor, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, Senin (6/8/2018).


Akibatnya, petani mengalami kerugian mencapai Rp 5 juta per satu hektare mulai dari biaya penanaman hingga bibit.

"Selain biaya pengelolaan, kami juga kan harus membayar biaya tambahan untuk pengairan," kayanya.

Tak hanya itu, banyak petani yang menelantarkan tanaman padinya akibat kurangnya pasokan air.

Puluhan hektare sawah juga tampak kering dan retak akibat tidak diairi.

"Ya ini kami ada air karena nambah biaya untuk pengairan. Lahan yang lain banyak yang kering karena petani tidak mau menambah biaya pengairan," ujar petani lainnya, Kartini (60) kepada Tribun Jabar.

Mereka mengaku telah memberikan sejumlah berkas kepada pihak terkait untuk mengajukan klaim gagal panen. (*)


Penulis: Siti Masithoh
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved