Breaking News:

Kekeringan

Cegah Bencana Kekeringan, Bandung Utara Harus Diproteksi dari Pembangunan Tak Terkendali

Lahan hijau yang semakin berkurang akibat pembangunan, kata Ferdy, dapat menjadi satu di antara penyebab bencana kekeringan.

shutterstock
Sawah kekeringan. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kepala Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DKPB) Kota Bandung, Ferdy Ligaswara, kembali mengingatkan agar wilayah dataran tinggi di Bandung utara diproteksi dari pembangunan yang tak terkendali.

Pasalnya, lahan hijau yang semakin berkurang akibat pembangunan, kata Ferdy, dapat menjadi satu di antara penyebab bencana kekeringan.

"Daerah Bandung utara, bukan hanya urusan Pemkot Bandung, tapi ini urusan beberapa kabupaten, kota, termasuk provinsi," ujarnya saat dihubungi Tribun Jabar melalui sambungan Telepon, Rabu (1/8/2018).

Pemerintah Akan Relokasi Industri di DAS Citarum

"Penyebab kekeringan di musim kemarau, (biasanya) karena debit air di bawah tanah menurun tajam. Sederhananya gini, air itu disuplai dari dataran atas ke bawah. Kalau atas saja sudah gundul, tidak ada resapan air, tidak ada deposit air di sekitar area pemukiman penduduk (di dataran tinggi) dan di hutan-hutan, yang di bawah juga akan kekeringan," katanya.

Ferdy juga mengingatkan agar para pengusaha, memikirkan kehidupan anak dan cucu ke depannya.

Jangan sampai pembangunan yang tidak terkendali berakibat pada rusaknya lingkungan di masa yang akan datang.

"Pengusaha jangan rakus. Saya menyayangkan, jurang saja banyak dibangun demi dijadikan view bagus. Bagaimana air meresap? Yang ada, air membawa lumpur ke bawah. Jadi saya ingatkan, yang berduit kuat untuk tidak rakus terhadap lingkungan," ujarnya.

Tak hanya itu, menurut Ferdy, masyarakat harus menjaga tata kelola lingkungan agar bencana kekeringan tak terjadi di Kota Bandung.

Misalnya, kata dia, dalam satu rumah, anggota keluarga bisa menanam beberapa pohon.

Ini 7 Fakta Dewi, Guru 22 Tahun Mengajar, Status Masih Honorer

"Dari satu atau dua rumah, ada pohonnya bagus. Kalau ratusan rumah ada pohonnya, akan bagus lingkungannya," kataya.

Ferdy mengaku tak punya data akurat mengenai debit air tanah yang berkurang.

Namun, pihak DKPB khawatir saat debit air pada hidran berkurang ketika digunakan pada saat terjadi kebakaran, maka kemungkinan debit air tanah juga sedikit.

"Memang itu bukan parameter secara ilmiah, tapi menjadi satu di antara indikasi. (Hidran) sudah berkurang debitnya, itu memang kemungkinan debit air tanahnya berkurang," ujarnya.

Penulis: Yongky Yulius
Editor: Theofilus Richard
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved