Breaking News:

Tangkal Intoleransi di KBB, GP Ansor: Jangan Gunakan Agama sebagai Daya Tarik Politik

Kami di sini berikan materi terkait ahlussunah waljamaah, kebangsaan, dan NKRI.

Tribun Jabar/Muhamad Nandri Prilatama
GP Ansor Bandung Barat lakukan kaderisasi untuk menangkal paham radikal dan intoleransi. Sejumlah kader ini berusia rara-rata 17 tahun dan berasal dari Desa Cikande, Kecamatan Saguling. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, SAGULING- Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam GP Ansor mengumpulkan calon-calon kadernya usia muda untuk pembekalan terkait ahlussunnah waljamaah, di Desa Cikande, Kecamatan Saguling, Sabtu (28/7/2018).

GP Ansor Korwil Ansor Jabar dan Komandan Densus Asmaul Husna Banser, Nuruzzaman, mengungkapkan kegiatan yang dilakukan rutin oleh Ansor dan Banser ini dilakukan di seluruh Indonesia sebagai tahapan kaderisasi.

GP Ansor ingin berikan pembekalan ahlussunnah di wilayah-wilayah yang potensi radikalnya kuat sehingga anak muda dapat paham dan menghargai agama bukan justru mengatasnamakan agama dalam melakukan tindakan kekerasan.

"Di Bandung Barat itu penting karena dekat dengan Kota Bandung, jadi tentu ada potensi radikalisme. Kami di sini berikan materi terkait ahlussunah waljamaah, kebangsaan, dan NKRI. Jika ada kelompok yang ingin ubah NKRI, kami siap berada di garda terdepan," katanya di Cikande.

Jusuf Kalla Belum Tentu Dukung Jokowi Kalau Tak Jadi Cawapres: Tergantung Siapa Calonnya

Driver Ojek Online dan Ojek Pangkalan di Bojongsoang Akhirnya Berdamai, Ini 6 Poin Kesepakatan Damai

Ketika disinggung posisi GP Ansor dalam tahun politik, kata Zaman GP Ansor bukanlah partai politik sehingga mereka akan tetap netral dan menolak kepada siapapun yang menggunakan agama sebagai alat dalam meningkatkan suara.

"Jangan gunakan agama sebagai daya tarik politik melainkan dijadikan sebagai substansi nilai. Sebab jika dipakai politik, maka negara akan hancur, seperti Syiria, Libia, dan Mesir," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Pimpinan Cabang Ansor Bandung Barat, Cecep Nedi mengaku pendidikan ini sebagai pendidikan diklat dasar guna membentuk karakter dan kebersamaan dalam satu wadah organisasi.


"Peserta ada 150 orang. Kegiatan ini dilakukan selama tiga hari agar terbentuk karakter, mental, juga fisik. Aktivitasnya 40 persen di dalam, dan 60 persen di luar ruangan," ujarnya seraya mengaku bekerja sama dengan Koramil dan polisi.

Selanjutnya, DPP Golkar Komisi VIII yang juga dari GP Ansor, Ace Hasan Syadzily berharap dari kaderisasi ini lahir kader-kader NU militan yang dapat membentengi ajaran Islam.

Saat ini, ucap Ace, sudah mulai tumbuh paham intoleransi, antiperbedaan di pedesaan dan menjadikan agama sebagai instrumen kepentingan politik.

"Banyak kok dari GP Ansor yang berada di parpol ya kami dukung kadernya di semua parpol untuk membangun sistem politik yang sehat dan berharap tidak ada terjadi konflik perbedaan politik," ujarnya. (*)

Penulis: Muhamad Nandri Prilatama
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved