Breaking News:

Saham Twitter Terjun Bebas Saat Perangi 'Keresahan' di Media Sosial

Penurunan tersebut diprediksi bakal berlanjut, karena pihak Twitter terus berjuang melawan spam, akun palsu dan postingan negatif.

BBC
Logo Twitter 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Saham Twitter Inc jatuh paling dalam selama empat tahun terakhir setelah perusahaan media sosial ini mengalami penurunan pengguna aktif bulanan hingga 1 juta di kuartal kedua, di bandingkan kuartal pertama tahun ini.

Penurunan tersebut diprediksi bakal berlanjut, karena pihak Twitter terus berjuang melawan spam, akun palsu dan postingan negatif.

Mengutip laporan Bloomberg Jumat (27/7/2018), Twitter mengungkapkan jumlah pengguna aktif saat ini sekitar 335 juta.

Meski jumlah itu naik 2,8% dari tahun lalu, namun perusahaan memprediksi pengunjung bulanan akan turun lagi di tahun ini.

Pihak Twitter menjelaskan, penurunan jumlah pengguna tersebut untuk membersihkan platform bermasalahan, kemudian untuk mengikuti aturan ketat di Eropa serta adanya perombakan terkait skema pelayanan melalui short message service (SMS).

“Kami yakin ini, ini demi kepentingan jangka panjang untuk meningkatkan kesehatan percakapan publik di Twitter. Kami juga tengah meninjau ulang sumber daya untuk mempersiapkan kebijakan privasi data di Eropa,” kata Twitter dalam rilis yang diperoleh Bloomberg.

Dengan kondisi tersebut, pasar sepertinya tidak mau hanya menunggu dan melihat.

Prabowo Subianto Sebut Koalisi Gerindra, PKS, dan PAN Sudah De Facto

Dua Petugas BNN Gadungan di Bekasi Diamankan Polisi

Setelah penurunan jumlah pengguna, saham Twitter langsung anjlok di angka 21% menjadi US$ 34,12 juta. Ini adalah penurunan saham tertinggi sejak Februari 2014.

Sebelumnya, Twitter melaporkan pendapatan bersih untuk kuartal kuartal II telah menyokong kenaikan saham sebesar 79% menjadi US$ 42,94 juta pada penutupan saham di hari Kamis (24/7/2018).

Namun perusahaan memperkirakan pendapatan tersebut belum terhitung bunga, pajak, depresiasai dan amortisasi sebesar US$ 235 juta, atau di bawah perkiraan rata-rata analis sebesar US$ 268 juta.

Halaman
123
Editor: Yudha Maulana
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved