8 dari 10 Anak Indonesia Pernah Di-bully, Harus Segera Diakhiri karena Bisa Bunuh Diri

Di Riau beberapa waktu lalu, seorang anak diejek miskin dan buruk rupa oleh teman-temannya di sekolah.

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Ichsan
Ilustrasi Bullying pada Anak 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Delapan dari sepuluh warga Indonesia, terutama kalangan anak, sudah terkena dampak perundungan atau bullying, baik dalam kehidupan nyata maupun media sosial di internet. Pemberantasan bullying di lingkungan pendidikan pun masih menjadi pekerjaan berat bagi semua pihak di Indonesia.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, mengatakan bullying yang sudah dialami kebanyakan orang ini berdampak serius terhadap kejiwaan bahkan sampai terhadap fisik korban, maupun pelakunya. Bullying wajib segera dihentikan di dunia pendidikan karena bisa berdampak sampai kematian.

Pengakuan Mantan Napi Lapas Sukamiskin, Toilet Umur Seabad dan Tak Semua Napi Kaya

Kedua pihak, katanya, bisa saja mengalami masalah jiwa dan sosial. Korban bullying bisa saja mengalami depresi sampai bunuh diri. Ataupun pelaku bullying yang mendapat pembalasan dari korbannya berupa tindak kekerasan sampai pembunuhan.

50 persen kasus kekerasan anak di dunia pendidikan disebabkan bullying. Dan kekerasan terhadap anak di dunia pendidikan ini merupakan peringkat keempat dari 1.885 kasus anak pada 2018, setelah masalah akibat pelanggaran hukum, pengasuhan, dan cyber crime tau kejahatan di dunia maya.


"Kebijakan sekolah ramah anak bisa menjadi solusi meminimalisasi kekerasan di dunia pendidikan. Dalam konsep sekolah ramah anak ini, guru harus lebih sensitif terhadap apa yang dialami anak, orang tua jangan menyerahkan sepenuhnya anak kepada sekolah tanpa pengawasan, serta orang tua bersama guru terus berkomunikaai mengenai perkembangan anaknya. Jangan sampai masalah di rumah terbawa ke sekolah tanpa pengawasan," kata Jasra di Bandung, Jumat (27/7/2018).


Jasra mencontohkan seperti kasus yang terjadi di Riau beberapa waktu lalu, seorang anak diejek miskin dan buruk rupa oleh teman-temannya di sekolah. Namun, katanya, pihak sekolah tidak mendeteksi hal tersebut dan keluarganya pun tidak mengetahui masalah yang dihadapi anaknya. Akhirnya, anak ini bunuh diri.

"Bullying ini PR kita di satuan pendidikan dan 50 persen ini angka yang terlalu tinggi. Apalagi sekarang ada cyber bullying, di peringkat ketiga. Apalagi dari 87 juta anak Indonesia, 30 persen sudah di medsos," ujarnya

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved