Komnas Perlindungan Anak Pertanyakan Kepantasan Penghargaan Layak Anak yang Didapat Kabupaten Garut

Komisi Nasional Perlindungan Anak meragukan pantas tidaknya penghargaan yang didapat Kabupaten Garut sebagai daerah layak anak.

Komnas Perlindungan Anak Pertanyakan Kepantasan Penghargaan Layak Anak yang Didapat Kabupaten Garut
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Makam FDL (12) korban penikamanan di Kampung Barukai, Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Komisi Nasional Perlindungan Anak meragukan pantas tidaknya penghargaan yang didapat Kabupaten Garut sebagai daerah layak anak dan puskesmas dengan pelayanan ramah anak terbaik.

Sebelumnya, Kabupaten Garut baru dianugerahi penghargaan kabupaten layak anak oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise pada Senin (23/7/2018), di Surabaya.

Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak, Dhanang Sasongko, mengatakan, pihaknya masih meragukan penilaian kota /kabupaten ramah anak itu seperti apa.


"Contoh, apakah hal kecil seperti semua anak memiliki akta kelahiran? apakah semua anak dapat bersekolah? apakah akses pendidikan sudah mudah?," kata Dhanang saat dihubungi, Rabu (25/7/2018).

Dhanang mengatakan, seharusnya, adanya anugerah tersebut tidak membuat pemerintah seakan berbesar hati, melainkan menjadi sebuah cambukan mewujudkan daerah ramah anak seutuhnya.

"Kelemahan yang terjadi di Garut seharusnya didiskusikan kepada masyarakat," katanya.

Keraguan pantas tidaknya Kabupaten Garut mendapatkan penghargaan daerah layak anak diduga kembali muncul setelah ada tragedi penusukan seorang murid SD oleh teman sekelasnya.

KPU Jabar Akan Monitoring Sengketa Pilkada Kabupaten dan Kota di Jawa Barat

Sebelumnya diberitakan, FDL (12) murid Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, harus meregang nyawa karena ditikam menggunakan gunting oleh teman satu kelasnya, yakni MH (12).

Dari informasi yang berhasil dihimpun dari orang tua korban, sebelum meregang nyawa, FDL dan MH sempat berkelahi di belakang gedung Sekolah SDN 1 Cikandang, Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, pada Sabtu (21/7/2018), namun berhasil dilerai oleh teman-teman lainnya.

Setelah berhasil dilerai, kemudian FDL bersama rekan-rekannya bergegas pulang ke rumah masing-masing melintasi jalan di belakang sekolah.

Namun saat diperjalanan menuju rumahnya di Kampung Barukai, Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, FDL dibuntuti oleh MH dan langsung saja ditikam menggunakan gunting.

Akibatnya, korban FDL pun seketika tersungkur dan sempat ditolong oleh teman-temannya yang juga hendak pulang.

Ayah Korban, Feri (38), mengatakan, dirinya mendapat laporan bahwa anaknya telah ditikam oleh MH pada pukul 12.00 WIB oleh teman satu kelasnya.

Pangdam III Siliwangi : Jika Ada yang Buang Limbah Sembarangan Laporkan, Saya Akan Tutup dan Cor

"Pak, itu FDL bertengkar dibelakang sekolah," kata Feri menirukan suara teman FDL di kediamannya di Desa Barukai, Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Selasa (24/7/2018).

Setelah mengetahui kabar tersebut, kemudian Feri bersama istrinya Tuti Atmawati (32), segera mendatangi lokasi kejadian dan melarikan FDL ke Puskesmas Cikandang.

Feri mengatakan, anaknya tersebut kemudian mendapatkan pertolongan pertama oleh pihak puskesmas berupa penjahitan dibagian yang terluka.

"Kondisi anak saya sudah setengah sadar," katanya.

Setelah mendapat pertolongan pertama di puskemas, kemudian FDL dibawa oleh pihak keluarga ke kediamannya.

Namun tepat pada pukul 15.00 WIB, FDL mengalami muntah-muntah dan sempat mengalami kejang, selama beberapa menit.

"Waktu saya cek, ternyata banyak luka lebam juga di bagian punggung, wajah, dan pinggang," katanya.

Feri mengatakan, merasa melihat kondisi FDL semakin mengkhawatirkan, kemudian dirinya melarikan FDL ke salah satu klinik IGD yang berada pusat keramaian Kecamatan Cikajang.

Ini Lho Rahasia Arina Mocca Tetap Terlihat Awet Muda Meski Usianya Sudah 40 Tahun

"Waktu dibawa, kondisi anak saya belum sadar juga. Yasudah kami bawa kembali ke rumah," katanya.

Keesokan harinya, tepat pada pukul 10.00 WIB, FDL kembali mengalami kejang, dada mendenyut kencang, dan mendengkur tak beraturan, hingga keluar busa bercampur darah.

Panik atas hal tersebut, kemudian Feri, kembali membawa FDL ke klinik IGD untuk mengharapkan anaknya tersebut dapat tertolong.

"Di perjalanan anak saya sudah tidak bernyawa," kata Feri.

Pangdam III Siliwangi : Jika Ada yang Buang Limbah Sembarangan Laporkan, Saya Akan Tutup dan Cor

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved