Kesah Warga Kampung Belekok yang Terdampak Proyek RTH, Rumah Rusak Hingga Terganggu Suara Bising  

Ketua Adat Kampung Belekok, Ujang Safaat (42), mengatakan dari kegiatan pembangunan itu terdapat sekitar 10 rumah yang terdampa

Kesah Warga Kampung Belekok yang Terdampak Proyek RTH, Rumah Rusak Hingga Terganggu Suara Bising   
Tribun Jabar/Ery Candra
Rumah warga yang rusak akibat pembangunan RTH di kawasan Bandung Timur tepatnya di Kampung Belekok, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Kamis (19/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Proses pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan Bandung Timur persisnya di Kampung Ranca Bayawak atau Kampung Belekok, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, masih menyisakan banyak permasalahan.

Sejumlah persoalan yang dirasakan sekitar puluhan warga adalah rusaknya rumah akibat proyek pembangunan itu.

Ketua Adat Kampung Belekok, Ujang Safaat (42), mengatakan dari kegiatan pembangunan itu terdapat sekitar 10 rumah yang terdampak, berada dekat batas pagar proyek pembangunan sehingga mengalami kerusakan berupa retak.

"Rumah mereka retak parah, suara (yang didengar penghuni rumah) juga sangat bising. Masyarakat sudah sering demo di depan proyek pembangunan tapi tidak digubris," ujar Ujang Safaat di Kampung Ranca Bayawak, Kamis (19/7/2018).

Kepala SMP Muslimin 3: Siswa Semakin Sedikit Tiap Tahun, Sekolah Kami Bisa Gulung Tikar

Ditanya Soal Fahri Hamzah yang Kritik Jokowi, Kaesang Pangarep: Jarang Dengerin Juga Sebenarnya

Tak hanya itu, menurutnya bangunan musala pun terkena dampak retakan. Genangan air terlihat di pagar pembatas rumah warga, tidak ada saluran air sehingga menimbulkan bau tidak sedap.

"Harusnya jarak sesuai amdal (analisis dampak lingkunga) lima meter ke pemukiman tapi faktanya hanya 60 cm," ujar Ujang.

Warga Kampung Belekok, Eme Jajuli (66), mengatakan rumah miliknya yang didiami sejak 1972 mengalami kerusakan parah, ada sekitar 15 retakan dan atap yang roboh.


Menurutnya, kerusakan itu bermula pada awal bulan Ramadan lalu hingga kini kerusakan kian bertambah besar.

"Dinding retak, lantai retak 80 keramik, atap pecah karena dampak dari getaran pembangunan itu. Telinga kami sakit, jadinya kami tidak nyaman tinggal di sini karena pembangunan terus," ujar Jajuli.

Hal serupa juga disampaikan oleh warga lainnya, Nana Anggraeni (27). Ia menuturkan rumahnya tepat berada dekat pembangunan itu dan sangat ternggangu akibat aktivitas proyek dari pagi hingga malam hari.

"Suara mobil-mobil sangat bising. Getaran juga terasa. Debu juga terasa sampai masuk ke rumah," kata Nana. (*)

Penulis: Ery Chandra
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved