Korupsi eKTP

Dokter Bimanesh Sutarjo Dihukum 3 Tahun Penjara

Dalam amar putusannya yang dibacakan oleh hakim ketua Mafudin, Dokter Bimanesh divonis 3 tahun penjara dan denda Rp 150 juta.

Dokter Bimanesh Sutarjo Dihukum 3 Tahun Penjara
Tribunnews.com/Theresia Felisiani
Dr Bimanesh Sutarjo usai sidang 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menyatakan Dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo terbukti bersalah menghalangi penyidikan e-KTP yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dalam amar putusannya yang dibacakan oleh hakim ketua Mafudin, Dokter Bimanesh divonis 3 tahun penjara dan denda Rp 150 juta.

"Menyatakan mengadili terbukti sah bersalah dengan tindak pidana bersama-sama dengan sengaja merintangi penyidikan tersangka dalam perkara korupsi. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan hukuman pidana selama 3 tahun dengan denda sejumlah Rp 150 juta dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 1 bulan," kata Hakim Ketua Mafudin, di pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (16/7/2018).

Vonis selama 3 tahun dan denda Rp 150 juta ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menuntut enam tahun penjara. Serta, membayar denda sebesar Rp 300 juta subsider 3 bulan kurungan.

Sementara, Bimanes yang tampak mengenakan baju kemeja lengan panjang dengan motif garis berwarna ungu tampak berdiri dengan posisi tegak.

Dia hanya memfokuskan pandangan kepada Ketua Majelis Hakim yang membacakan vonis kepadanya.

Hakim juga sempat mengungkapkah meringankan kepada Dokter Bimanes.

"Saudara berjasa dalam dunia kesehatan," kata Hakim Mafudin.

Fakta Insiden Tewasnya Pelajar Asal Bogor yang Dibacok Orang Tak Dikenal Setelah Nobar Piala Dunia

Sudah 25 Terduga Teroris Ditangkap di Jabar Pasca-Kerusuhan di Mako Brimob, 5 di Antaranya Ditembak

Diketahui, Bimanesh didakwa bersama-sama dengan pengacara Fredrich Yunadi telah melakukan rekayasa agar Setya Novanto dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau.

Hal itu dalam rangka menghindari pemeriksaan oleh penyidik KPK.

Saat itu, Novanto merupakan tersangka dalam kasus korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP).

Awalnya, pada 16 November 2017, Fredrich yang merupakan pengacara Setya Novanto, menghubungi Bimanesh dan meminta bantuan agar Novanto dapat dirawat inap di RS Medika Permata Hijau, dengan diagnosis menderita hipertensi.

Fredrich juga memberikan foto data rekam medik Novanto di RS Premier Jatinegara, yang difoto beberapa hari sebelumnya.

Fredrich sempat memberi tahu bahwa skenario rawat inap Setya Novanto dengan diagnosa korban kecelakaan. Bimanesh lalu menyanggupi untuk memenuhi permintaan Fredrich.

Padahal, dia mengetahui Novanto sedang memiliki masalah hukum di KPK terkait kasus korupsi pengadaan e-KTP.(*)

Editor: Ravianto
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved