Tak Perlu Pakai SKTM tapi Cukup Hasil Panen Seadanya, Anak-anak Miskin Bisa Masuk Sekolah Ini

"Kami langsung menyisir rumah anak-anak tidak mampu di desa, kami dekati orang tuanya agar anaknya disekolahkan,"

Khoirul Muzaki/Tribun Jateng
Hasil bumi untuk daftar ulang siswa baru di MTs Pakis Gununglurah Cilongok Banyumas orang tua dan siswa kompak menyiapkan lahan yang menjadi kelas pembelajaran mereka sehari-hari. 

TRIBUNJABAR.ID, BANYUMAS - Maraknya peredaran Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) palsu saat pendaftaran siswa di sekolah negeri menuai polemik.

Banyak orang tua mengaku miskin agar anaknya mendapat prioritas masuk di sekolah favorit.

Tak pelak, anak-anak yang sebetulnya berhak mendapatkan kesempatan itu tetaplah merana hingga putus sekolah.

Andai saja para guru mau sedikit kotor turun ke desa, mereka tidak akan sulit menemukan anak-anak miskin sebenarnya yang patut diperjuangkan.

SKTM bagi pengurus MTs Pakis Dukuh Persawahan Desa Gununglurah Cilongok tak penting.

Kroasia vs Inggris, Dejan Lovren Kembali Bertemu Mimpi Buruknya di Liga Inggris

Banyak yang Mendadak Miskin demi Anak Masuk Sekolah Negeri, Dedi Mulyadi Sebut Itu Salah Kaprah

Semua siswa di sekolah ini sudah dipastikan miskin meski tanpa surat yang ditandatangani lurah.

Sejak awal masa pendaftaran, guru di MTs ini sibuk mendatangi rumah-rumah reot di desa pinggir hutan, Desa Sambirata dan Gununglurah Cilongok.

Di rumah itu, tinggal anak-anak miskin putus sekolah.

Ada pula anak yang baru lulus sekolah dasar (SD) namun dipastikan tidak akan melanjutkan pendidikan karena belenggu kemiskinan.

"Kami langsung menyisir rumah anak-anak tidak mampu di desa, kami dekati orang tuanya agar anaknya disekolahkan," kata Kepala MTs Pakis Isrodin, Rabu (11/7/2018).

Sang guru membujuk para orang tua miskin agar anak-anaknya diizinkan meneruskan pendidikan. Orang tua mana yang tak ingin anaknya bisa sekolah tinggi, jika pendidikan adalah jembatan untuk mengubah nasib.

Perjalanan Nikita Mirzani: Masuk Pesantren, Kenal Dunia Malam Seusai Cerai, dan Kini Mantap Berhijab

Tetapi pendidikan umumnya membutuhkan biaya. Syarat itulah yang menjadi titik kelemahan mereka.

Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) bisa saja gratis tetapi transportasi harian dari rumah ke sekolah pasti berbayar. Pun tidak ada mobil angkutan dari desa terpencil ini ke SMP di kecamatan.

Kedatangan guru ini tak lain untuk menjawab kecemasan itu. Di MTs Pakis, orang tua tidak perlu pusing memikirkan biaya pendidikan yang sepenuhnya dibebaskan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved