Disdagin Kabupaten Cirebon Akui Banyak Petani Garam Terjerat Hutang Tengkulak

Kami turut prihatin anjloknya harga garam, khususnya yang dialami petani di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan

TRIBUN JABAR/SITI MASITHOH
Kepala Disperindag Kabupaten Cirebon, Deni Agustin, saat ditemui di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jumat (26/1/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Cirebon, mengakui masih banyak petani garam di Kabupaten Cirebon yang terjerat hutang ke tengkulak.

Kepala Disdagin Kabupaten Cirebon, Deni Agustin, menyebut permasalahan yang dihadapi para petani garam ialah keterbatasan modal.

Karenanya, harga garam hasil panen para petani pun ditentukan oleh para tengkulak.

"Kami turut prihatin anjloknya harga garam, khususnya yang dialami petani di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon," kata Deni Agustin, saat dihubungi melalui sambungan teleponnya, Selasa (10/7/2018).


Ia mengakui keterbatasan modal merupakan permasalahan utama para petani garam.

Mereka pun terpaksa meminjam uang ke tengkulak untuk modal mengolah lahan garam.

Akibatnya para tengkulak mengendalikan penuh harga garam di tingkat petani.

Soal Rekrutan Pemain Baru, Mario Gomez: Cukup Satu Kali Saja Bikin Keputusan Salah

"Petani tidak bisa menjual garam selain ke tengkulak, karena mereka punya hutang," ujar Deni Agustin.

Ia mengatakan, penurunan harga garam itu sebenarnya selalu terjadi secara periodik.

Pasalnya, banyaknya petani yang panen membuat suplai garam semakin banyak.

Secara hukum ekonomi, menurut deni, jika suplai naik, maka harga pun turun. (*)

Penulis: Ahmad Imam Baehaqi
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved