Erupsi Gunung Agung

PVMBG Rilis Data Pemantauan Gunung Agung, Begini Hasilnya

Kepala PVMBG, Badan Geologi, Kasbani mengatakan, secara visual, aktivitas permukaan. . .

Penulis: Yongky Yulius | Editor: Fauzie Pradita Abbas
vsi.esdm.go.id
Erupsi Gunung Agung, Bali pada Rabu 4 Juli 2018 pukul 12:20 WITA. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi rilis hasil data pemantauan Gunung Agung, Bali.

Kepala PVMBG, Badan Geologi, Kasbani mengatakan, secara visual, aktivitas permukaan masih didominasi oleh kejadian erupsi maupun embusan.

"Erupsi yang terjadi bersifat efusif yaitu berupa aliran lava ke dalam kawah maupun eksplosif yaitu berupa lontaran batu atau lava pijar maupun pasir dan abu. Penyebaran abu ke arah barat mengikuti arah angin," ujarnya di ruang informasi kantornya, Jalan Diponegoro, Bandung, Rabu (4/7/2018).

"Ancaman bahaya yang dapat membahayakan jiwa secara langsung seperti lontaran batu atau lava pijar masih terlokalisir di dalam radius empat kilometer."

Kemudian, secara seismik, aktivitas Gunung Agung masih didominasi oleh gempa-gempa dengan konten frekuensi rendah yang mencerminkan adanya aliran fluida menuju ke permukaan yaitu berupa gempa low frequency, gempa embusan dan gempa letusan.

"Kegempaan frekuensi tinggi yang mencerminkan peretakan batuan di dalam tubuh gunung api akibat pergerakan magma baru masih terekam dengan intensitas relatif rendah yaitu berupa gempa vulkanik (dalam maupun dangkal) dan gempa tektonik lokal," kata Kasbani.

"Dominannya kegempaan dengan konten frekuensi rendah dibandingkan dengan konten frekuensi tinggi mencerminkan bahwa aliran fluida magmatik ke permukaan relatif lancar karena sistem cenderung terbuka."

Secara deformasi, pascaseri erupsi dalam satu minggu terakhir ini tubuh Gunung Agung mengalami tren deflasi seiring dengan berkurangnya tekanan fluida magmatik di dalam tubuh Gunung Agung.

"Erupsi dapat terjadi pada saat pembangunan tekanan (inflasi) maupun pada fase penurunan tekanan (deflasi). Data deformasi masih mengindikasikan aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rawan untuk terjadi erupsi," ujar Kasbani.

Lalu, secara geokimia, gas magmatik SO2 masih terekam dengan fluks masih relatif tinggi, pada 3 Juli 2018 fluks SO2 dalam kisaran 1400-2400 ton/hari dan pada 4 juli 2018 fluks SO2 dalam kisaran 400-1500 ton per hari.

"Citra satelit termal mengindikasikan bahwa aktivitas erupsi efusif masih berlangsung dengan volume pertumbuhan kubah lava pada kisaran 4-5 juta meter kubik dalam satu minggu terakhir ini. Volume kubah lava lama berkisar 23 juta meter kubik, sehingga volume total kubah lava 2017-2018 sekitar 50 persen dari volume kosong kawah," kata Kasbani.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved