Pilgub Jabar 2018

Ada Dua Faktor Mengapa PKS-Gerindra Menguat di Jabar

"Di Jawa Barat misalnya militansi dan sistematis dari mesin partai PKS dan faktor Prabowo sangat berpengaruh luar biasa," ujarnya.

Ada Dua Faktor Mengapa PKS-Gerindra Menguat di Jabar
TRIBUN JABAR/MEGA NUGRAHA
Calon wakil gubernur Jabar Dedi Mulyadi tampak menghampiri pasangan calon nomor 3, Sudrajat-Syaikhu di sela jeda debat ketiga Pilgub Jabar di Grand Ball Room, Jalan Sudirman Kota Bandung, Jumat (22/6/2018). 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Reza Deni

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Djayadi Hanan selaku Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), mengatakan bahwa Pilkada Serentak 27 Juni 2018 lalu memunculkan sejumah fakta mengejutkan.

Adapun fakta tersebut menurut dia yakni semakin menguatnya kekuatan partai-partai koalisi oposisi, seperti Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di tiga daerah.

"Gerindra dan PKS, itu di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara," kata Djayadi dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Vox Point Indonesia bertajuk 'Menakar Kekuatan Koalisi Pemerintah Vs Koalisi Oposisi Pasca Pilkada Serentak' di Jakarta Pusat, Rabu (4/7/2018).

"Kami melihat apa yang terjadi di Jabar dan Jateng itu dalam sebulan terakhir, terjadi penguatan kandidat yang didukung oleh oposisi. Kalau di Sumut sejak awal."

Djayadi kemudian membahas soal penguatan partai-partai oposisi yang terjadi di Pilgub Jawa Barat.

"Terdapat dua faktor penting yang menyebabkan penguatan oposisi," kata Djayadi.

Dilanjutkan Djayadi, pertama yakni mesin partai dan kedua yakni ketokohan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang digadang-gadang akan "mencalonkan diri sebagai capres" pada Pilpres 2019.

"Di Jawa Barat misalnya militansi dan sistematis dari mesin partai PKS dan faktor Prabowo sangat berpengaruh luar biasa," ujarnya.

Baca: Final Piala Dunia 2018 Brasil vs Kroasia, Hasil Prediksi Kecerdasan Buatan

Sebelumnya, pada Pilgub Jabar, koalisi Gerindra, PKS, dan PAN mengusung pasangan Sudrajat - Ahmad Syaikhu (Asyik).

Namun, dari sejumlah quick count, sementara ini yang menang adalah lawan mereka, pasangan Ridwan Kamil - UU Ruzhanul Ulum.

Dijelaskan Djayadi, pasangan Asyik tidak menang di Pilgub Jabar, padahal oposisi semakin menguat hanya karena faktor tingkat popularitas yang sangat rendah.

"Pemilih PKS dan pemilih Prabowo terbelah ke ketiga pasangan. Kalau Hasanah jelas solid, karena para pemilih kurang mengenal pasangan Asyik. Sehingga lebih memilih Ridwan Kamil, dan Duo Deddy karena sejarah dukungan," pungkas Djayadi.(*)


Editor: Ravianto
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved