Kisah Penjual Batu Nisan di Nagreg, Sebulan Kadang Cuma Satu Pembeli, Ajaib Mampu Bertahan 6 Tahun

"Dinikmati saja bersyukur kepada Allah masih diberikan kesempatan buat usaha terus," ujar Edi saat ditemui di kios miliknya

Penulis: Ery Chandra | Editor: Ichsan
Tribunjabar/Ery Chandra
Penjual batu nisan di depan Masjid Al-Hikmah, Edi (55), tengah menunjuk jenis-jenis batu nisan kepada Tribunjabar.id, di kiosnya, Jalan Raya Nagreg Kilometer 35, Kabupaten Bandung, Senin (2/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, NAGREG - Sejumlah batu nisan berjejer di depan sebuah kios di pinggir Jalan Raya Nagreg Kilometer 35, Kabupaten Bandung, Senin (2/7/2018) siang.

Batu nisan yang permukaannya sudah ditulisi nama orang itu terdiri dari berbagai ukuran. Ini merupakan contoh barang bagi konsumen yang hendak memesan batu nisan

Pemilik kios penjualan batu nisan itu adalah Edi (55). Pria asal Madura yang telah membuka usaha batu nisan di lokasi itu sejak 2012 mengaku, selama ini rezekinya tergantung dari orang-orang yang meninggal dunia.

Baca: Oknum The Jak Pelaku Pemukulan Ingin Ketemu, Anak Menpora Bilang Ogah

"Dinikmati saja bersyukur kepada Allah masih diberikan kesempatan buat usaha terus," ujar Edi saat ditemui di kios miliknya, Senin (2/7/2018).

Warna batu nisan yang dijual di kios itu ada warna hitam maupun putih. Harga satu batu nisan antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.


Menurut Edi, usaha batu nisan ini tidak bisa diprediksi. Dalam satu hari, ia tak tahu apakah ada yang memesan atau tidak. Apalagi kondisi ekonomi sekarang ini kurang mendukung yang berdampak kepada usahanya.

"Kadang yang beli hanya sebulan sekali. Walaupun ada yang meninggal, belum tentu mereka langsung memasang. Kuburannya dibiarkan seadanya karena faktor ekonomi tadi," ujar Edi.

Edi mengatakan, penjualan batu nisan memperoleh keuntungan menjelang Hari Raya Idulfitri. Pasalnya, pihak keluarga orang yang meninggal terkadang  mengganti nisan ataupun membangun makam supaya terlihat lebih rapi.


"Tapi tahun ini sepi karena di kampung sini jarang yang pesan. Biasanya yang pesan dari Kota Bandung," kata Edi.

Edi mengatakan selama berjualan ia telah mengalami berbagai suka duka, bahkan pernah tertipu oleh  seseorang yang pura-pura hendak membeli batu nisaan. Ternyata dia hanya mengincar sepeda motor miliknya.

"Akhirnya motor raib dibawa maling itu. Ke depannya semoga bisa berkembang terus usaha nisan seperti ini," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved