Ramadan Berkah
Masjid Baing Yusuf Purwakarta, Perpaduan Nuansa Islami dan Budaya Sunda
Baing Yusuf sendiri merupakan nama seorang tokoh pendakwah Agama Islam di Purwakarta.
Penulis: Haryanto | Editor: Yudha Maulana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Haryanto
TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA -Sempat dianggap ditelantarkan oleh Pemda Purwakarta, ternyata Masjid Agung Baing Yusuf telah banyak perubahan ke arah yang lebih baik setiap saatnya.
Terutama pada saat kepemimpinan Dedi Mulyadi sebagai Bupati Purwakarta dua periode.
Namanya mengalami perubahan menjadi Masjid Agung Baing Yusuf usai menjalani renovasi di sana-sini.
Baing Yusuf sendiri merupakan nama seorang tokoh pendakwah Agama Islam di Purwakarta.
Berkah ilmu dari Baing Yusuf, merefleksi Dedi Mulyadi untuk mengganti nama masjid itu dengan nama beliau.
Baca: Ridwan Kamil: Warga Jangan Golput, Gunakan Hak Suaranya Untuk Pilih Pemimpin Daerah
Pada awalnya, perubahan fisik masjid agung yang terletak di Jalan Gandanegara, Cipaisan, Purwakarta tidak memiliki ciri khas.
Setelah berkonsultasi dengan para tokoh masyarakat dan tokoh Agama, saat itu mulai memasukan unsur budaya ke dalam desainnya.
Bukan tanpa alasan saat itu Dedi merombak arsitektur masjid yang terletak tidak jauh dari komplek Pemkab Purwakarta ini.
Kepala Sub Bagian Agama pada Bagian Kesra Pemkab Purwakarta, Dindin Ibrahim menceritakan hal tersebut.
Baca: Bandara Kertajati dan Asa Deddy Mizwar untuk Mendongkrak Ekonomi di Jabar
“Pemerintah Kabupaten Purwakarta saat itu mulainya dari bagian depan. Masjid Agung Purwakarta dihiasi pagar dengan ciri khas dan taman-taman. Arsiteknya saat itu langsung Kang Dedi Mulyadi,” kata Dindin di ruang kerjanya, Jalan Gandanegara, Purwakarta, Kamis (24/5/2018).
Tidak hanya sampai disitu, sekitar 10 meter dari gerbang utama, dibangun sebuah gerbang masuk berarsitektur ‘julang ngapak’. Hal tersebut memiliki arti yang filosofis, burung yang sedang merentangkan sayap.
Arsitektur tersebut merupakan bentuk bangunan khas Sunda, yang biasanya diterapkan pada bangunan berjenis rumah panggung.
“Jadi, saat jamaah masuk lewat gerbang depan, itu disambut ‘julang ngapak’,” ujar Dindin.
Meski banyak rombakan disana-sini, ciri khas keislamannya pun masih kental pada megahnya masjid ini.
Masih adanya bedug yang berada di teras masjid, ukiran masjid hingga tower yang dipasangi kubah khas masjid masih dipertahankannya.
Baca: 5 Fakta Kasus Suami Bunuh Istri di Tengah Muara Sebelum Gantung Diri, Ada Perselingkuhan?
Taman yang luas pun membuat masjid ini tidak lagi berkesan gersang, sejuk dan ketenangan akan dirasakan jemaah di sekitar masjid.
Tidak hanya bagian luar, bagian dalam pun tak jauh berbeda. Nuansa kultural terasa juga di bagian dalam, terutama karpet yang biasa digunakan jamaah untuk shalat, juga berdesain khas Purwakarta.
Berbeda dengan karpet masjid pada umumnya, desain khusus karpet menjadi salah satu ciri khas masjid agung ini.
Pasalnya, gerbang utama Masjid Baing Yusuf tergambar jelas pada tiap bagian karpet masjid.
“Uniknya di situ. Karpetnya Sunda banget, menjadi ciri khas masjid tersebut,” lanjut Sekretaris PCNU Purwakarta tersebut.
Baca: Kisah Pilu Stinney Jr, Dihukum Mati Saat Berusia 14 Tahun, 77 Tahun Kemudian Dinyatakan Tak Bersalah
Pemeliharaan Masjid Agung Baing Yusuf pun menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Purwakarta hingga kini.
Anggapan ditelantarkan pun sirna oleh adanya dua orang petugas kebersihan, yang setiap hari merawat dan membersihkan taman yang dihadirkan oleh Pemerintah.
“Petugas kebersihannya digaji pemda. Kemudian, kalau ada acara kita selalu support, snack dan sekedar uang lelah untuk petugas acara. Itu menjadi salah satu kegiatan rutin kesra,” ucapnya menambahkan.
Insiden Dresden, Pengalaman Memalukan Soeharto, Kepalanya Dipukul, Politikus Ini Dituduh Dalangnya https://t.co/dzkptssP3L via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) May 23, 2018
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/masjid-baing-yusuf-di-purwakarta-tampak-dari-atas_20180524_093604.jpg)