Ini 8 Fakta Terkait Hijrahnya Yuki Pas Band, Nomor 8 Bikin Ngilu
Pada saat itu, Yuki mengaku mengendarai motor secara ugal-ugalan dengan kecepatan sekitar 95 km/jam
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI - Dulu penampilannya urakan, rambutnya panjang dan sedikit gimbal, tetapi saat ini jauh berbeda, dia lebih sering mengenakan baju gamis putih lengkap dengan peci dan sorban.
Itulah Yuki Arifin Martawidjaja atau akrab disapa Yuki Pas Band yang saat ini telah berhijrah. Pasti sudah tak asing bagi pecinta musik Indonesia, khususnya pecinta musik di Kota Bandung.
Bergelut dalam industri musik mengantarkan Yuki pada ketenaran dan kesuksesan lantaran lagu-lagunya kerap digemari jutaan penggemarnya.
Jauh sebelum berhijrah, ketenaran dan kesuksesannya itu membuat dirinya terlena pada kenikmatan duniawi, sehingga lama kelamaan ia kerap diterpa sejumlah permasalahan hidup.
Baca: Sebelum Masjid Nurbuat Cirebon Dibangun, Pendirinya Mengaku Dapat Bisikan Gaib
Berikut fakta 8 Hijrahnya Yuki Pas Band :
1. Berawal Pas Band Sepi Job
Dimulai pada tahun 2008, Yuki mengaku, band yang telah membawanya pada kesuksesan itu sepi job, sehingga otomatis royalti pun saat itu menurun drastis.
"Jadi tahun 2008, Allah itu sebetulnya sudah ngasih peringatan dengan menguji band saya kesuksesannya terus menurun," ujar Yuki saat ditemui Tribun Jabar usai mengusi tausiyah di Cibabat Park, Kota Cimahi, Minggu (20/5/2018).
Namun ia tidak menyadari hal tersebut, seharusnya, kata dia, setelah itu dirinya sudah harus mulai bertaubat dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selama hampir dua tahun, apapun ia kerjakan demi memenuhi kebutuhan keluarganya, terutama untuk biaya sekolah anak-anaknya.
Begini Jadinya Kalau Putri Diana Masih Hidup, Hadir di Pernikahan Pangeran Harry - Meghan Markle https://t.co/kGi9UTxKiv via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) May 22, 2018
2. Bisnis Bangkrut
Tepat pada tahun 2010, ayah empat anak ini mulai berbisnis dengan membuka pabrik karbon aktif dan ternyata hasilnya menguntungkan, bahkan keuntungannya terus meningkat.
"Alhamdulillah penghasilan 30, 40, 50 (juta). Selamat masih bisa membiayai anak sekolah dan kuliah. Tapi anehnya itu bisnis hanya kuat sampai satu tahun," kata Yuki.
Pada tahun 2011, bisnisnya itu hancur karena bangkrut total, namun Yuki enggan menyebutkan kenapa bisnisnya bisa sampai bangkrut, dia menganggap kebangkrutan itu merupakan kuasa Allah.
"Intinya kuasa Allah saya bangkrut, bukan kuasa manusia. Kalau Yuki dulunya orang sholeh gak mungkin Allah mengizinkan bangkrut. Karena saya tidak sholeh ya diizinkan Allah (bangkrut)," katanya.
3. Harus Melunasi Utang yang Besar
Setelah bisnis bangkrut, Yuki terpaksa harus menjual semua aset yang dimilikinya dari hasil ngeband, untuk melunasi utang bisnisnya, tetapi tetap belum bisa melunasi utang-utangnya.
"Semua yang saya punya waktu itu dijual, tapi tidak cukup. Beberapa kartu credit saya dikosongin terus beberapa motor dan mobil pribadi dijual, masih tidak cukup juga," ujarnya.
Terlebih yang paling menyedihkan, ia harus menjual kos-kosan, padahal memiliki bisnis kos-kosan itu merupakan cita-citanya sejak dulu, tetapi utangnya tak kunjung lunas.
Bapak Duel Maut Lawan Anak Gara-gara Tanah Warisan, Keduanya Tewas Bersimbah Darah https://t.co/jfOk0QpTh5 via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) May 22, 2018
5. Tidak Menafkahi Istri Selama 1,5 Tahun
Beruntung Yuki memiliki istri yang sholeha dan pengertian, istrinya rela tidak dinafkahi demi utang-utang suaminya itu bisa terbayar.
"Istri saya menyuruh mencari uang, lalu setelah dapat harus bayar utang, dapat bayar utang. Itu selama satu tahun setengah saya tidak ngasih uang belanja pada istri," katanya.
Demi melunasi utangnya, kata Yuki, ia tidak seperti sebelumnya yang kerap pilih-pilih job manggung, job yang kecil pun saat itu ia ambil, hingga akhirnya sedikit demi sedikit hutangnya terbayar lunas.
6. Alami Kecelakaan.
Peristiwa yang terjadi pada Mei 2015 bisa dibilang awal dari proses hijrahnya seorang Yuki Pas Band, saat itu dia mengalami kecelakaan di daerah Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.
Pada saat itu, Yuki mengaku mengendarai motor secara ugal-ugalan dengan kecepatan sekitar 95 km/jam, akibatnya ia mengalami tabrakan parah di daerah tersebut.
"Yang kena kaki, tempurungnya pecah dua, tulang betisnya ke belakang dan tulang keringnya ke samping," ujar Yuki saat ditemui Tribun Jabar usai mengisi kajian Islam di Cibabat Park, Kota Cimahi, Minggu (20/5/2018).
Selama tiga bulan, Yuki harus terkapar di salah satu pengobatan alternatif di kawasan Singaparna, Kota Tasikmalaya untuk mejalani pengobatan kaki kanannya itu.
Yuki pun baru menyadari bahwa kecelakaan tersebut teguran keras dari Allah SWT, untuk menyadarkan dirinya agar bisa menjalani kehidupan di dunia ke arah yang lebih baik.
Penampilan Istri Virgoun Berubah Total, Dulu Seksi, Sekarang Bercadar https://t.co/TjvtZQ0Khg via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) May 22, 2018
7. Mulai Perbaiki Salat
Hijrahnya Yuki, dimulai dengan memperbaiki salat, ia pun mulai rajin menjalankan salat setelah kondisi kakinya mulai membaik.
"Walaupun waktu itu kaki saya belum sembuh total, tapi salatnya dinikmati dan kerja keras karena kalau kerja keras hasilnya pasti baik," katanya.
Seiring berjalannya waktu, dia pun banyak bergabung dengan jemaah tabligh untuk menjejali dirinya dengan beragam ilmu tentang Islam.
Baca: Tak Bisa Keluar dari Dalam Mobil Karimun, Dua Balita di Purwakarta Ini Ditemukan Sudah Meninggal
8. Hijrah dan Banyak Itikaf
Saat itu pada tahun 2017, Yuki mulai menjalani itikaf dan mendatangi beberapa masjid di Kota Bandung hingga banyak mendapat ilmu tentang kajian-kajian Islam dari beberapa kajian yang diikutinya.
Hingga saat ini ia kerap memberikan motivasi kisah hijrahnya ketika diundang maupun tak diundang dalam kegiatan kajian di Kota Bandung maupun diluar Kota.
Meski begitu, pria yang pernah belajar musik di negara Jepang ini, tidak merasa lebih tahu soal agama, walaupun saat ini banyak mengisi kajian-kajian Islam dihadapan sejumlah jemaah maupun fansnya.
"Ini merupakan ajang untuk menambah ilmu, sebab ketika memberikan motivasi di kegiatan kajian, maka akan mendapatkan ilmu dari ustaz yang mengisi tausiah pada waktu yang sama," katanya.