Ini Makna Filosofis di Balik Nama Komunitas Hong
"Anak-anak sekarang cenderung individual padahal kebahagiaan anak-anak adalah bermain," ucap Cecep.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Generasi zaman old khususnya wilayah Jawa Barat pastinya sudah tak asing lagi dengan permainan ucing sumput (petak umpet).
Saat bermain petak umpet, ketika bersembunyi dan ketemu oleh lawannya maka akan menyebutkan kata hong yang artinya ketemu.
Sayangnya permainan petak umpet ini semakin lama semakin hilang termakan oleh canggihnya teknologi.
Baca: Ini Instruksi Khusus Mario Gomez kepada Anak Asuhannya untuk Menghadapi Madura United
Daripada harus berlari kesana kemari, mereka lebih senang menghabiskan waktu dengan gadgetnya untuk bermain.
Hal inilah yang membuat Komunitas Hong hadir di Bandung untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional yang sudah mulai dilupakan.
Buntut Rekaman Diduga Bagi-bagi Jatah Proyek, Rini Soemarno Dilaporkan ke Bareskrim https://t.co/yq3MgfpjHx via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) May 1, 2018
Koordinator Komunitas Hong, Cecep Imansyah (30) mengatakan nama Hong diambil dari permainan tradisional petak umpet.
"Secara filosofis ada makna yang lebih dalam dari kata hong, yaitu artinya pertemuan dengan Tuhan karena menemukan kebahagiaan kembali," ujar Cecep di Taman Inklusi, Jalan Saparua, Minggu (29/4/2018).
Jika di ingat kembali, permainan bersembunyi dan ada yang mencari ini memang sungguh asyik dan menggembirakan.
Tawa riang selalu terdengar, bahkan rasa deg-degan muncul ketika posisi orang yang bersembunyi akan ketahuan.
"Anak-anak sekarang cenderung individual padahal kebahagiaan anak-anak adalah bermain," ucap Cecep.
Benarkah Rutin Konsumsi Susu Bikin Gemuk? Ini Penjelasannya https://t.co/1NKao2kr2J via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) May 1, 2018
Ketika bermain, anak bisa belajar banyak hal seperti kekompakan, kerjasama, dan membangun emosi yang ada di dalam dirinya.
Komunitas yang telah berdiri sejak 2005 ini digagas oleh Mohammad Zaini Alif yang merasa miris anak-anak sudah tak mengenal lagi permainan tradisional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/rorodaan_20180501_100741.jpg)