Breaking News:

Pilgub Jabar

Eksekutif Direktur LKKP Ungkap Sejumlah Penelitian Sebut Jabar sebagai Provinsi Paling Intoleran

Cikal bakal gerakan radikalisme di Jawa Barat tidak terlepas dari nilai historis dengan peran Kartosuwiryo yang dikenal dengan gerakan DI/TII.

TRIBUN JABAR/WISNU SAPUTRA
Eksekutif Direktur Lingkar Kajian Komunikasi Politik, Adiyana Slamet tengah menjelaskan materi pada Seminar Nasional Radikalisme bertajuk "Peran Pemuda Salam Melawan Paham Radikalisme serta Fungsi Pemilih Muda Dalam Pilgub Jabar 2018" di Aula Kampus II Universitas Pasundan (Unpas), Taman Sari, Kota Bandung, Jumat (27/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Wisnu Saputra

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Cikal bakal gerakan radikalisme di Jawa Barat tidak terlepas dari nilai historis dengan peran Kartosuwiryo yang dikenal dengan gerakan DI/TII.

Bahkan, dari beberapa penelitian selama enam tahun berturut-turut, satu di antaranya penelitian dari STARA Institute menyebut jika Jawa Barat menyandang predikat sebagai provinsi paling intoleran di Indonesia.

"Cikal bakal gerakan ini kemudian bergerak secara terorganisir dan terinstitusi. Lalu kemudian ada gerakan trans nasional yang menitikberatkan terhadap agama Islam. Dan titiknya ada di Jawa Barat," ujar Adiyana Slamet seusai Seminar Nasional Radikalisme bertajuk "Peran Pemuda dalam Melawan Paham Radikalisme serta Fungsi Pemilih Muda dalam Pilgub Jabar 2018" di Aula Kampus II Universitas Pasundan (Unpas), Taman Sari, Kota Bandung, Jumat (27/4/2018).

Baca: Lahan Sepanjang 90 Meter Bekas Limbah Medis Ini Akan Dijadikan Taman Literasi Sungai

Baca: Polisi Imbau Warga Segera Lapor Jika Melihat Aktivitas Orang yang Mencurigakan di Lingkungannya

Menurut Adiyana, radikalisme adalah sebuah perilaku.

Kelompok yang menganut isme ini tentunya berani menjuluki orang-orang di luar lingkaran kelompok ini sebagai orang yang dikafirkan.

Bahkan, gerakan ini sudah dieksploitasi dan menjadi gerakan politik menjelang Pilgub Jabar 2018.


Titiknya, ujar Eksekutif Direktur Lingkar Kajian Komunikasi Politik ini adalah bagaimana kelompok tersebut sudah mempolitisasi jihad agama menjadi jihad politik atau kekuasaan.

"Jadi kelompok ini menganggap memenangkan kandidat yang diusungnya harus menang dalam Pilgub Jabar 2018 sebuah jihad dengan mengatasnamakan agama," kata dia.

Adiyana mengatakan, adanya indikasi gerakan radikalisme pada Pilgub Jabar 2018 ini awalnya muncul dari beberapa isu yang tengah hangat beberapa waktu yang lalu.

Salah satunya adalah munculnya isu-isu hoaks yang bernuansa SARA di media sosial.

"Bahkan Cyber Crime Mabes Polri sempat menangkap penyebar isu hoaks bernuansa keagaman. Dan itu pelakunya kebanyakan dari Jawa Barat. Bahkan pentolannya dari Majalengka yang juga sebagai dosen," ucap dia. (*)

Penulis: Ragil Wisnu Saputra
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved