Mainan Tradisional Saron, Gamelan Mini yang Dibuat dari Bahan Bekas
Para perajin mainan tradisional Saron di Kabupaten Cirebon, membuat mainan Saron dari bahan-bahan bekas.
Penulis: Siti Masithoh | Editor: Isal Mawardi
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Masithoh
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Para perajin mainan tradisional Saron di Blok Pengkolan Gang Jaed Rt 13/04, Desa Kedungsana, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon, membuat mainan Saron dari bahan-bahan bekas.
Saron atau gamelan mini tersebut dibuat dari kayu Albasia, drum bekas, dan karet. Pertama, kayu akan dipotong-potong dan dikeringkan.
Kedua, drum dipotong menjadi lembaran kemudian dibolongi.
Drum tersebut dibentuk menjadi kecil-kecil sehingga menghasilkan nada do-re-mi-fa-so-la-si-do. Kayu yang sudah kering tadi akan dibentuk sebagai bahan utama Saron.
Setelah dibentuk, drum yang sudah dibolongi tersebut ditempelkan ke atas kayu menggunakan paku.
Setelah jadi, Saron akan dites nadanya menggunakan pukulan dari karet dan kayu.
Setelah nadanya sempurna, Saron tersebut baru dapat dijual dan dimainkan oleh anak-anak.
Untuk mempercantik tampilan, Saron dicat terlebih dahulu agar terlihat lebih menarik.
"Dalam sehari bisa produksi ratusan. Itu dari pagi sampai sore," ujar Rosilawati (46), perajin Saron saat ditemui di rumahnya, Minggu (8/4/2018).
Baca: Kisah Mistis Leuwibeurit, Kerap Terdengar Suara Gamelan, Hanya Orang Terpilih yang Bisa Melihatnya
Saron yang dijual ada dua ukuran. Ukuran kecil panjangnya 30 sentimeter dan lebar 15 sentimeter.
Ukuran besar lebarnya 50 sentimeter dan lebar 10 sentimeter.
Saron ukuran besar dibanderol Rp 10.000 dan Saron ukuran kecil dibanderol Rp 5.000.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/saron_20180408_124128.jpg)