Terinspirasi dari Anak, Yayan Ardhianto Buat 7pagi, Aplikasi Penghubung Orang Tua Murid dan Sekolah
Berawal dari tidak terpantaunya kegiatan anak secara langsung di daycare, Yayan Ardhianto, terinspirasi membuat aplikasi 7Pagi.
Penulis: Theofilus Richard | Editor: Isal Mawardi
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Theofilus Richard
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Berawal dari tidak terpantaunya kegiatan anak secara langsung di daycare, Yayan Ardhianto, terinspirasi membuat aplikasi 7Pagi.
Aplikasi 7Pagi adalah aplikasi penghubung orang tua murid dan sekolah.
Orang tua murid dapat memantau kegiatan anaknya di sekolah melalui foto atau laporan kegiatan yang diunggah guru di aplikasi 7Pagi.
"Awalnya karena saya kan punya anak kecil, dititipkan di daycare saat saya bekerja. Itu enggak kepantau. Biasanya ada buku laporan kegiatan anak sih di daycare, tapi kadang terlewat tidak terbaca," ujarnya ketika ditemui Tribun Jabar di kantornya, Bandung, Kamis (5/4/2018).
Ide ini muncul dari Yayan sejak pertengahan tahun 2016. Ia bersama dua rekan lainnya kemudian mulai merancang sistem aplikasi ini.
Awalnya aplikasi ini juga akan menyantumkan data nilai dan hasil evaluasi belajar murid, tapi hal itu urung dilakukan.
"Tadinya mau ada data nilai, hanya saja untuk TK dan SD kelihatannya terlalu rumit, jadi kami buat sederhana saja," ujarnya.
Baca: Mengenal 7Pagi, Aplikasi untuk Orang Tua Agar Dapat Memantau Anaknya di Sekolah
Tetapi, kata Yayan, ke depannya aplikasi 7Pagi ini akan dikembangkan untuk bisa menginput data nilai. Fitur tersebut khusus akan digunakan untuk siswa tingkat SMP dan SMA.
Untuk membuat aplikasi ini, Yayan bersama dua rekan dan empat pegawai outsource, bekerja selama enam bulan. Aplikasi ini selesai pada akhir 2016.

Ia mulai merancang aplikasi ini dengan modal sekira Rp 150 juta. Yayan mengaku termotivasi membuat aplikasi ini karena menyenangi dunia sekolah dan anak kecil.
Bekerja sama dengan Microsoft
Yayan Ardhianto mengatakan aplikasi ini juga bisa tercipta berkat kerja sama dengan Microsoft.
"Ada kerja sama dengan Microsoft, mereka juga beri bantuan dana," ujarnya.
Bantuan tersebut, kata Yayan, akhirnya bisa menutupi modal yang sempat keluar.
"Sekarang kalau mau login bisa diintegrasikan dengan akun Office 365," ujarnya.
Sempat ditolak banyak sekolah
Saat aplikasi ini tercipta, Yayan Ardhianto pun kemudian menawarkan aplikasi ini ke sekolah-sekolah.
Sudah lebih dari 30 sekolah ia tawarkan. Beberapa sekolah menerima, beberapa sekolah menolak secara halus, dan ada sekolah menolak secara kasar.
"Kasarnya, kami dikira sales. Ketika datang ke sekolah, mereka bilang 'Sudah, nanti saja!', padahal kami belum sempat menjelaskan maksud kami," ujarnya.
Ia juga mengakui jika pihaknya kekurangan tenaga marketing.
Baca: Mengenal 7Pagi, Aplikasi untuk Orang Tua Agar Dapat Memantau Anaknya di Sekolah
Sehingga hanya Yayan Ardhianto dan dua rekannya lah yang harus turun langsung ke lapangan menawarkan aplikasi ini.
Sekarang Yayan Ardhianto sudah memiliki sembilan sekolah sebagai pengguna.
"Ada tiga sekolah TK dan enam sekolah yang gabungan TK dan SD," ujarnya.
Sekolah yang menjadi pengguna aplikasi 7Pagi mengapresiasi karya Yayan dan dua rekannya.
"Tanggapan pengguna bagus sih, mereka juga memberi masukan untuk minta pengembangan," ujarnya.
Ke depannya, Yayan Ardhianto berencana menambah fitur dalam aplikasi ini.
Ia juga berencana melebarkan pasar ke sekolah tingkat SMP dan SMA.
Nantinya 7Pagi akan menambah fitur untuk memperlihatkan daftar nilai murid.
Proyek terdekatnya adalah pengembangan 7Pagi untuk sebuah SMA di Kabupaten Kuningan.