Pria Ini Mengaku Kehilangan Mata Pencaharian Setelah Pembangungan PLTU II Indramayu
Setelah tidak menjadi buruh tani, kini ia bekerja sebagai buruh serabutan. “Pokoknya kerja apa saja, yang penting mendapat uang,” ujarnya.
Penulis: Theofilus Richard | Editor: Kisdiantoro
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Theofilus Richard
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Dalam aksi demonstrasi di depan Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar, massa yang mengatasnamakan Jaringan Tanpa Batu Bara Asap Indramayu (Jatayu) mengatakan banyak warga kehilangan pekerjaan sebagai buruh tani setelah pembangunan PLTU II Indramayu.
Satu di antaranya adalah Tarsida (57), yang mengaku bekerja sebagai buruh tani sebelum PLTU II Indramayu dibangun.
“Mata pencahrian hilang, buruh tani lahannya enggak ada, mau melaut, dipagar,” ujarnya.
Warga Desa Mekarsari tersebut mengatakan saat ini ia harus berjalan ke luar desanya untuk mendapat pekerjaan.
Setelah tidak menjadi buruh tani, kini ia bekerja sebagai buruh serabutan.
“Pokoknya kerja apa saja, yang penting mendapat uang untuk anak,” ujarnya.
Ia mengaku tinggal bersama istri dan kelima anaknya yang masih sekolah.
Satu anaknya duduk di bangku SMA, satu anak di bangku SMP, dua di bangku SD, dan anak bungsunya masih TK.
Menurut Tarsida, kini penghasilannya menurun drastis.
Sewaktu masih menjadi buruh tani, penghasilannya dalam satu hari bisa lebih dari Rp 100 ribu.
“Kalau sekarang menjadi buruh serabutan, sekira Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu,” ujarnya.
Tarsida berharap pembangunan proyek PLTU II Indramayu dapat dihentikan.
Sebelumnya dikabarkan, keputusan PTUN memenangkan warga Jatayu dan mencabut surat keputusan izin lingkungan.
Pihak PLTU II Indramayu juga mengajukan banding dan sampai saat ini proses banding belum selesai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/tarsida-57-warga-desa-mekarsari-indramayu_20180403_175557.jpg)