'Hoaks Sudah Ada dari Dulu, Media Penyampaiannya Saja yang Berbeda'

Hoaks dan ujaran kebencian banyak menjadi headline di masa kampanye pilgub Jabar dan pilkada serentak 2018.

'Hoaks Sudah Ada dari Dulu, Media Penyampaiannya Saja yang Berbeda'
infokomputer.grid.id
ilustrasi hoax 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Ferry Fadhlurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Hoaks dan ujaran kebencian banyak menjadi headline di masa kampanye pilgub Jabar dan pilkada serentak 2018.

Meskipun begitu, bagi Ketua Bawaslu Jabar, Herminus Koto, hal tersebut tidak aneh karena hoaks dan berita bohong sudah ada sejak lama.

"Hoaks ini kan sudah ada sejak manusia ada, dulu disampaikan dari mulut kemulut lalu melalui media tertulis. Media (konvensional) juga dulu melakukan hal itu lalu kemudian ada aturan harus dikonfirmasi ke sumber beritanya," ujar Herminus di Grand Pasundan Hotel setelah acara diskusi Pilkada Jabar Bebas Hoaks, Selasa (3/4/2018).

Namun, bagi Bawaslu yang menjadi tantangan dari penumbasan hoaks adalah karena teknologi. Terutama dengan media online yang begitu cepat dalam menyebarkan pesan.


Ia mencontohkan bagaimana hoaks pada jaman dahulu disebarkan melalui surat kaleng, sekarang disebarkan secara perseorangan melalui ponsel masing-masing.

"Nah sekarang ini (penyebaran hoaks) melalui teknologi hanya pindah alatnya saja. Tapi perilakunya sama dari dulu sampai sekarang," ujar Herminus.

Ia kembali menjelaskan bagaimana seseorang bahkan bisa memproduksi berita bohong dengan sendiri tanpa bantuan orang-orang dan gerakan besar yang sistematis.

Baca: Bawaslu Jabar: Tiga Kasus Hoaks di Pilgub Jabar, Pelakunya Bukan dari Jabar

"Karena ini dilakukan perorangan bisa diproduksi yang ia produksi terakit ketidakinginan dia kepada orang lain. Bisa fitnah ataupun black campaign," tegas Herminus.

Penulis: Ferry Fadhlurrahman
Editor: Isal Mawardi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved