Breaking News:

Perjuangan Hernowo Kayuh Sepeda Naik Turun Bukit demi Antar Anaknya yang Down Syndrom sampai Sekolah

Tubuhnya kecil, kulitnya sawo matang, wajahnya berkeriput dalam, dan kaki mengenakan sandal jepit usang.

Editor: Ravianto
KOMPAS.com/Dani J
Hernowo mengendalikan kemudi sepeda, Kamilah dan Wahyu di belakang. Seperti inilah setiap hari Hernowo membawa Wahyu sekolah yang jauhnya belasan kilometer. Hernowo yang setengah tuli sejak lahir tidak menyerah menyekolahkan anaknya yang down syndrome. Di usia senja mereka, ia mengharapkan Wahyu bisa cepat mandiri. 

Wahyu mesti masuk kelas sebelum pukul 08.00 WIB.

Ia akan bergabung dengan lima temannya di kelas 5C di SLB itu sampai lewat tengah hari. 

Semua siswa di kelas ini adalah penderita down syndrome (DS) atau keterbelakangan mental.

Dari rumah di sebuah bukit di Kulon Progo, mengayuh sepeda hingga ke SLB dilakoni Hernowo dan Kamilah agar Wahyu bisa sekolah hari Senin-Jumat.

SLB di Desa Gotakan, Panjatan, itu sebenarnya hanya 11-an kilometer dari Anjir.

Meski jarak tak jauh, Hernowo mengayuh sepeda hampir 60 menit dengan sepeda ontel.

Perjalanan selama itu karena kontur jalan dan keramaian kota yang dilewati.

Wahyu adalah anak semata wayang dari Hernowo dan Kamilah.

Warga mengenalnya sebagai pasangan suami istri penjual kayu bakar.

Hernowo biasa mencari dan memotong kayu, Kamilah mengikatnya setelah mengeringkan dengan cara diangin-angin.

Halaman
1234
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved