Bupati Bandung Barat Angkat Bicara soal Banjir di Jatihandap
Bencana banjir dahsyat yang terjadi di Jatihandap, Kota Bandung beberapa hari lalu banyak yang. . .
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Fauzie Pradita Abbas
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, LEMBANG - Bencana banjir dahsyat yang terjadi di Jatihandap, Kota Bandung beberapa hari lalu banyak yang beranggapan karena adanya alih fungsi lahan di Kawasan Bandung Utara (KBU).
Bupati Bandung Barat, Abubakar pun angkat bicara terkait hal itu.
Menurut Abubakar, banjir bandang di Cicaheum itu disebabkan dari kawasan di Gunung Manglayang, Kabupaten Bandung.
"Kami itu konsisten tidak pernah tandatangani Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tanpa rekomendasi provinsi. Untuk yang tanpa izin nah itulah yang susah kami kendalikan," katanya di Lembang, Rabu (22/3/2018).
Ketika disinggung terkait alih fungsi lahan, Abubakar menegaskan itu ranahnya berada di PPAT (pejabat pembuat akta tanah) sepanjang alih lahan saling menguntungkan.
Abubakar pun menyebutkan bahwa KBU itu meliputi Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.
"Jadi, untuk yang Jatihandap itu ya dari Manglayang dan KBU-nya itu di administrasi Kabupaten Bandung," ujarnya.
Sementara itu, komandan Kodim 0609, Letkol Antonius Andre Wira mengatakan, banjir wilayah Kota Bandung akibat curah hujan tinggi dan aliran air yang tak tertahan di KBU.
Kodim bersama provinsi dan Kodam III Siliwangi kemudian melakukan penanaman pohon.
"Kami imbau dan sosialisasikan pula ke warga agar tidak ada alih fungsi lahan di KBU. Di Cisanti sebagai mata air Citarum pun kami imbau ke warga di sana. Boleh bercocok tanam tapi jangan menanam sayuran yang tidak bisa menahan debit air, seperti kentang dan wortel," katanya di Lembang.
Memang dari segi penghasilan, Andre menyebut itu akan sangat menguntungkan bagi para petani yang cepat mendapat panen jika menanam kentang dan wortel. Namun, jika diobservasi hal itu tidak bisa menahan air.
"Saat hujan, air turun dan tanah serta pupuk terbawa ke sungai membuat tercemar mengakibatkan sedimentasi menjadi lebih parah. Kami juga bekerjasama dengan Perhutani untuk lahan yang saat ini tidak alih fungsi," ujarnya.
Andre juga menegaskan, pihaknya telah melakukan peninjauan bersama Perhutani serta polisi hutan dengan lakukan penanaman, karena adanya hutan yang mulai gundul
"Kami telah patroli cek ke daerah Maribaya, Jayagiri, dan Cikole ke lokasi rawan longsor. Kami pun telah tandai lahan-lahan kritis untuk penanaman bersama," ucap dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/banjir-di-jatihandap-kota-bandung_20180320_171510.jpg)