Breaking News:

OPINI

Robohnya Dimensi Sakral

PERHELATAN politik tahun 2018, yaitu Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) serentak, menjadi daya tarik sekaligus daya uji

TRIBUN JABAR
Cecep Burdansyah foto baru berjas biru kemeja merah. 

Menjerumuskan Seniman
Seniman memang terlalu gawat untuk menyentuh politik praktis, walaupun sekadar jadi tim sukses, tim ahli perumus atau ikut wara-wiri bersama kandidat dan timnya. Bahkan seorang seniman yang terlalu rajin diundang ke istana atau pun terlalu sering bertemu presiden kita sering bertanya, ada apa gerangan?

Seniman memang sebuah pekerjaan, tapi tidak memiliki kode etik profesi seperti halnya wartawan, dokter, pengacara atau profesi lainnya. Masuk akal seniman tidak perlu dipagari kode etik karena terlanjur dianggap mampu menempatkan dirinya dan mampu melihat mana yang etis dan tidak.

Sebagaimana ulama, kehadiran seniman terlanjur dipercaya sebagai orang-orang yang istimewa dengan kemampuannya mengolah keindahan atau estetika yang bisa mencerahkan publik. Sebuah karya seni indah karena dianggap mengandung dimensi moral dan kemanusiaan. Kedua dimensi ini ditopang oleh sikap kritisnya.

Modal kritis hanya dimungkinkan jika berjarak dengan kekuasaan. Karena itu, walaupun tanpa kode etik, seniman ataupun budayawan terlanjur dipercaya sebagai penjaga moral dan pilar kemanusiaan serta pemelihara akal waras.

Namun kita lupa bahwa seniman adalah manusia juga. Untuk melihat persamaan bahwa seniman sama juga dengan tukang becak, dosen, tukang lotek, aktivis LSM, tukang ojeg, ulama dan sekerumuman orang yang mempunyai pekerjaan apapun dan berhasrat meraih sedikit keuntungan, bisa dilihat pada musim Pilkada.

Seniman tidak salah karena ia juga butuh makan dan punya syahwat poltik, tapi mungkin publik yang terlanjur menempatkan seniman terlalu tinggi dalam strata sosial. Lebih salah lagi ketika menganggap seniman sebagai mahluk suci.

Sehingga ketika kita melihat ada seniman di media sosial atau di mana pun ikut-ikutan mendukung kemenangan seorang kandidat di Pilkada, kita melenguh seperti lembu,lalu kecewa.

Realitas itulah yang sedang terjadi sekarang ini. Penampakan seniman dan jurnalis hadir dalam kerumunan kandidat Pilgub atau Pilwalkot/Pilbup beserta para pendukungnya bisa dilihat baik melalui media sosial atapun secara nyata di lapangan.

Bahkan seniman bisa "ngajegang", ia mendukung kandidat di Pilgub Jabar yang didukung oleh partai tertentu, sementara ia pun mendukung kandidat di Pilwalkot Bandung yang diusung oleh partai yang berbeda dengan partai yang mengusung kandidat di Pilgub Jabar. Artinya sang seniman mempunyai kemampuan yang luwes untuk mengikuti warna apa pun sesuai dengan pilihannya.

Melihat realitas tersebut publik layak kecewa, karena politik praktis bagaimanapun serupa semak belukar yang banyak duri, lumpur dan ranjau dalam merengkuh kekuasaan. Asas moral politik demokratis seperti yang diuraikan Ian Shapiro (buku: Asas Moral dalam Politik) yang membentangkan jalan bagi publik untuk berlomba dalam tugas-tugas kemanfaatan publik dalam realitasnya menihilkan moral demi mencapai kekuasaan, bahkan jadi ajang lomba untuk merampok anggaran publik untuk mengganti biaya yang mahal.

Inilah jebakan yang menjerumuskan para seniman yang ikut eforia dalam Pilkada. Akibat segelintir seniman atau budayawan yang gemar berpetualang ini, aroma kesenimanan tidak wangi lagi.*

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved