Komunitas Batako, Wadah Tukar Informasi Soal 'Si Laba-laba Besar'

Ya, rasa takut atau geli akan dirasakan saat melihat hewan salah satu jenis laba-laba dengan ukuran sangat besar yang umumnya berambut ini.

Penulis: Yongky Yulius | Editor: Yudha Maulana
Tribun Jabar/Yongky Yulius
Tarantula dari Barudak Tarantula Kota Bandung 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Apa yang terlintas di benak Anda ketika melihat hewan tarantula?

Ya, rasa takut atau geli akan dirasakan saat melihat hewan salah satu jenis laba-laba dengan ukuran sangat besar yang umumnya berambut ini.

Namun, hal itu rupanya tidak berlaku bagi sekelompok warga Bandung yang menamakan dirinya 'Batako'.

'Batako' merupakan singkatan dari Barudak Tarantula Kota Kembang.

Mereka adalah sebuah komunitas yang mengumpulkan pencinta tarantula yang menjadikan hewan itu sebagai peliharaan untuk dipajang (display pet).

Baca: Elvy Sukaesih Ungkap Kondisi Dhawiya di Rumah Tahanan

Baca: Ridwan Kamil Sayangkan Minimnya Perhatian Pemerintah Terhadap Makam Sunan Gunung Djati

Tribun Jabar berkempatan untuk berbincang dengan anggota dari Batako saat mereka memamerkan koleksi tarantulanya di Lucky Square Mal, Jalan Terusan Jakarta, Kota Bandung, Sabtu (3/3/2018).

Saat di lokasi, mereka membuka stan yang diisi sekitar belasan kandang tarantula.

Kandang itu terbuat dari akrilik transparan.

Alhasil, hewan berbulu dan berkaki banyak itu bisa jelas terlihat.

Ukuran tarantula yang mereka bawa di Lucky Square bermacam-macam.

Mulai dari seukuran jempol kaki orang dewasa, hingga seukuran telapak tangan anak kecil.

Warna dari tubuh tarantula pun bermacam-macam.

Mulai dari abu-abu, hitam, merah, bahkan biru.

Alvin Guido (20) anggota Batako asal Regol dan Jonathan Evander (21) asal Cimahi Selatan, berbicara kepada Tribun Jabar mengenai komunitas unik ini.

Baca: 5 Kuliner Khas Thailand Paling Diburu di Bandung, Cita Rasanya Mantap!

"Batako adalah Barudak Tarantula Kota Kembang. Kemungkinan satu-satunya komunitas pencinta tarantula di Kota Bandung. Kami adalah komunitas yang mengumpulkan pecinta tarantula yang ada di Bandung. Tarantula adalah laba-laba gede atau berbulu," ujar Alvin.

Jonathan, menambahkan, Batako yang saat ini sudah beranggotakan sekitar 50-an orang lebih sudah dibentuk sejak sekitar tujuh tahun yang lalu.

Bukan tanpa alasan komunitas itu dibentuk.

Alvin, mengatakan, awalnya, banyak pencinta tarantula yang kebingungan seluk beluk mengenai hewan itu.

Komunitas pencinta tarantula 'Batako' saat memamerkan koleksinya di Lucky Square, Jalan Terusan Jakarta, Kota Bandung, Sabtu (3/3/2018).
Komunitas pencinta tarantula 'Batako' saat memamerkan koleksinya di Lucky Square, Jalan Terusan Jakarta, Kota Bandung, Sabtu (3/3/2018). (Tribun Jabar/Yongky Yulius)

Akhirnya, lambat laun, para pencinta tarantula saling bertemu untuk tukar informasi.

Terciptalah komunitas itu karena kebutuhan satu sama lain mengenai informasi tarantula.

"Kami mencetuskan bersama-sama. Akhirnya, karena ada komunitas ini, kami bisa saling sharing. Tukar informasi. Yang nggak tahu apa-apa Jadi tahu, 'wah ini cara nanganin tarantulanya rupanya'. Jadi lebih tahu," ujar Alvin yang memiliki sekitar 16 spesies tarantula di rumahnya.

Informasi mengenai tarantula itu, lanjutnya, dibutuhkan karena harga tarantula di pasaran berubah-ubah.

Atau, informasi itu dibutuhkan agar saling berbagi pengetahuan mengenai spesies tarantula yang baru ditemui.

"Tarantula itu, kalau beli yang kecil, yang baru beberapa bulan, harganya di kisaran Rp 50-200 ribu. Dalam waktu 2 tahun, harganya bisa mencapai Rp 1,5 juta. Itu untuk spesies Haplopelma lividum atau Cobalt Blue Tarantula. Nah, harga itu kadang berubah-ubah. Selain itu, kalau di komunitas, kami juga jadi paham spesies-spesies lainnya yang tidak kami tahu. Akhirnya, bisa jadi menjadi tertarik membeli spesies baru itu," ujar Jonathan yang mengaku memiliki tujuh spesies di rumahnya.

Seperti halnya komunitas lain, kendala pasti ditemui.

Jonathan, mengatakan, kendala dari Batako adalah semakin sulitnya anggota bisa berkumpul semua.

"Kendalanya susah buat ngumpul. Gathering biasanya 3-7 orang. Sekarang, bisa 10 orang sudah lumayan lah. Selain susah menemukan waktu yang pas, hujan juga menjadi kendala kan sekarang," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved