Tantangan Abad 21 Tuntut Anak untuk Banyak Membaca

Abad 21 membutuhkan anak-anak yang mampu berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan mampu bekerja sama.

Istimewa
Seminar literasi Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) bertema 'Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)' diadakan di Trans Studio Bandung, Jalan Gatot Subroto, Senin (26/2/2018) dan Selasa (27/2/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Abad 21 membutuhkan anak-anak yang mampu berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan mampu bekerja sama.

Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga dari Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Dr Sukiman M Pd, mengatakan hal itu saat memberikan sambutan pada seminar literasi Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) bertema 'Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)' di Trans Studio Bandung, Jalan Gatot Subroto, Senin (26/2/2018).

Seminar itu diadakan selama dua hari, yakni Senin sampai Selasa (27/2/2018).

"Selain itu, abad 21 membutuhkan kecakapan literasi dasar yang mencakup kemampuan baca tulis, numerasi, sains, mengelola keuangan, teknologi digital, dan memahami budaya dan kewarganegaraan Indonesia. ini semua bisa diperoleh apabila anak-anak dan kita semua rajin membaca," kata Sukiman, dikutip dari rilis yang diterima Tribun Jabar.

Hasil survei internasional (FISA) tahun 2015, lanjutnya, menunjukkan bahwa minat baca anak-anak Indonesia berada pada urutan ke-64 dari 72 negara.

"Anak-anak kita lebih suka nonton TV dari pada mmbaca. Kita sendiri, orang dewasa pada umumnya minat bacanya juga sangat rendah. Belum tentu satu buku kita selesaikan dalam satu bulan. baca pesan yang agak panjang pun seringkali malas," ujar Sukiman.

Padahal, tambahnya, tantangan abad 21 dan peradaban dunia ke depan menuntut kita untuk banyak membaca dan membaca.

"Pendidikan di bangku sekolah hanyalah sebuah pengantar, belajar sepanjang hayat setelahnya menjadi sebuah keharusan bila kita tidak ingin terlindas zaman," kata Sukiman.

Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku, lanjutnya, adalah suatu gerakan untuk mendukung inisiatif dan peran keluarga dalam meningkatkan minat baca anak melalui pembiasan di rumah, di PAUD, dan di masyarakat.

"Tujuan gerakan ini adalah untuk membiasakan orang tua membacakan buku bersama anak-anak mereka. Mempererat hubungan sosial-emosional antara anak dan orang tua. Menumbuhkan minat baca anak sejak dini," kata Sukiman.

"Adapun manfaat membacakan buku pada anak. antara lain, meningkatkan kosa kata anak. Meningkatkan kedekatan anak dengan orang tua. Meningkatkan rasa keingintahuan anak. Meningkatkan keinginan anak untuk terus belajar dan belajar. Mencerdaskan anak," lanjutnya.

Dari Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku ini, dia berharap orangtua lebih sering membacakan buku kepada anak, termasuk sebagai pengantar tidur.

Kemudian, pelibatan orangtua untuk membacakan buku di lembaga lebih sering dilakukan.

Lalu, di lembaga PAUD, terbentuk perpustakaan buku anak yang dikelola oleh paguyuban orangtua untuk kepentingan terbaik anak-anak lndonesia.

Penulis: Yongky Yulius
Editor: Isal Mawardi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved