Dosen di Garut Ini Bantu Masyarakat Kembangkan Sentra Jamur Tiram

Rama Adi Pratama mengatakan kebutuhan pasar akan permintaan jamur makin meningkat setiap hari,

Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Dosen Jurusan Agroteknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Garut, Rama Adi Pratama, Selasa (27/2/2018). 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, GARUT- Dosen Jurusan Agroteknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Garut, Rama Adi Pratama, membuat program Iptek jamur tiram di Kampung Cikarokrok, Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut.

Tujuan dari iptek ini yakni untuk membantu dan mengembangkan permasalahan aspek produksi pada pengembangan bibit jamur untuk dikonsumsi, yakni jamur tiram.

Yang terjadi saat ini, para petani jamur tiram di kampung tersebut belum mampu menciptakan bibit dan hanya bisa membeli dari luar kota.

Melalui ilmu pengetahuan ini, di tahun 2017, melalui hasil penelitian, Rama Adi Pratama,‎ memberikan keterampilan masyarakat untuk mengembangkan usaha jamur tiram.

‎Metode yang diterapkan untuk mencapai target tersebut yakni berupa pelatihan dan pendampingan secara khusus, yakni mendampingi pembuatan bibit F0, F1, dan F2.

Rama Adi Pratama mengatakan kebutuhan pasar akan permintaan jamur makin meningkat setiap hari, karena minim pengembangan, akibatnya permintaan pasar tidak dapat terpenuhi.

Dosen Jurusan Bioteknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Garut, Rama Adi Pratama, Selasa (27/2/2018).
Dosen Jurusan Bioteknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Garut, Rama Adi Pratama, Selasa (27/2/2018). (Tribun Jabar/Hakim Baihaqi)

"‎Ketika memiliki ilmu lebih kenapa tidak dibagikan saja kepada masyarakat yang membutuhkan," katanya ditemui di lokasi pengembangan jamur rita milik Diki Purnama, Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Selasa (27/2/2018).

Baca: Sindiran Pedas untuk Manajemen Persib Bandung dari Mario Gomez

Sebelum dikembangkan metode ini, para mitra hanya mampu membeli baglog untuk memproduksi jamur saja, namun, adanya produksi yang berasal dari F0, hal tersebut diselesaikan.

"Melalui metode ini, produksi jamur akan meningkat," kata Rama Adi Pratama Magister Jurusan Agronomi Unpad itu.

Selain itu, ia mengatakan sebelum metode ini dikembangkan para petani jamur tiram terpaksa gulung tikar karena hasil produksi yang tidak maksimal.

"‎F0 sulit didapatkan, maka dari itu dan produksi terganggu," ujarnya.

Petani Jamur Tiram, Diki Purnama, sempat berpikir cara pengembiakan jamur tidak beragam dan tak bisa menghasilkan produksi banyak.

"Setelah diberi wawasan oleh Pak Rama, saya baru menyadari ‎kalau misesselium (F0) bisa menghasilkan banyak jamur," ujarnya. (*)

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved